4 menit baca 752 kata Diperbarui: 14 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang Back Stop

  • Back Stop berfungsi sebagai jaminan pendanaan bagi perusahaan yang menerbitkan instrumen baru.
  • Tindakan ini dilakukan ketika perusahaan menghadapi kendala dalam penjualan saham atau obligasi.
  • Pihak yang memberikan Back Stop bisa individu, bank, atau institusi keuangan lainnya.
  • Merupakan strategi manajemen risiko untuk mengurangi potensi kegagalan investasi.
  • Pemberi Back Stop perlu melakukan evaluasi risiko dan potensi keuntungan sebelum bertindak.

📑 Daftar Isi

Apa itu Back Stop?

Back Stop adalah Back Stop adalah jaminan dana dari pemegang saham/pemberi pinjaman untuk membeli saham/obligasi baru perusahaan yang kesulitan menjualnya, demi memastikan pendanaan.

Penjelasan Lengkap tentang Back Stop

Dalam dunia forex dan investasi, Back Stop merujuk pada sebuah mekanisme krusial yang memberikan jaminan pendanaan bagi perusahaan yang sedang dalam proses penerbitan instrumen keuangan baru, seperti saham atau obligasi. Tindakan ini diambil ketika perusahaan menghadapi kesulitan dalam menjual seluruh atau sebagian dari instrumen yang diterbitkan kepada publik atau investor lain.

Apa itu Back Stop?

Secara esensial, Back Stop adalah komitmen dari pihak ketiga, yang biasanya adalah pemegang saham yang sudah ada (existing shareholders) atau pemberi pinjaman (lenders), untuk membeli sisa saham atau obligasi yang tidak terserap oleh pasar. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa perusahaan tetap mendapatkan dana yang dibutuhkan dari penerbitan tersebut, meskipun kondisi pasar kurang kondusif atau minat investor tidak sesuai harapan.

Pihak yang Memberikan Back Stop

Pihak yang dapat memberikan jaminan Back Stop sangat beragam, meliputi:

  • Individu atau Kelompok Investor Besar: Pemegang saham utama yang memiliki keyakinan kuat terhadap prospek perusahaan.
  • Institusi Keuangan: Bank investasi, perusahaan sekuritas, atau perusahaan asuransi yang memiliki kapasitas finansial untuk menyerap instrumen tersebut.
  • Pemerintah atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN): Dalam konteks tertentu, terutama untuk perusahaan strategis.

Peran Back Stop dalam Manajemen Risiko

Back Stop seringkali dianggap sebagai salah satu strategi manajemen risiko yang efektif dalam dunia investasi. Dengan adanya jaminan ini, risiko kegagalan penerbitan instrumen keuangan menjadi lebih kecil. Hal ini memberikan rasa aman bagi perusahaan dan dapat meningkatkan kepercayaan investor secara umum, karena menunjukkan adanya dukungan finansial yang kuat.

Evaluasi Sebelum Memberikan Back Stop

Meskipun menawarkan jaminan, pihak yang mempertimbangkan untuk memberikan Back Stop harus melakukan analisis mendalam. Ini mencakup:

  • Penilaian Potensi Keuntungan: Mempertimbangkan imbal hasil yang diharapkan dari pembelian saham atau obligasi tersebut, termasuk potensi apresiasi harga atau kupon bunga.
  • Analisis Risiko: Mengevaluasi risiko yang mungkin timbul, seperti penurunan nilai instrumen di masa depan, ketidakmampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya, atau perubahan kondisi ekonomi makro.
  • Kapasitas Finansial: Memastikan bahwa sumber daya finansial mencukupi untuk memenuhi komitmen Back Stop tanpa mengganggu likuiditas atau operasional pemberi jaminan.

Keputusan untuk memberikan Back Stop harus didasarkan pada perhitungan rasio risiko-imbal hasil yang menguntungkan dan dapat dikendalikan.

Cara Menggunakan Back Stop

Back Stop digunakan oleh perusahaan sebagai 'jaring pengaman' saat penerbitan saham/obligasi baru, dan oleh investor/institusi sebagai strategi untuk mendukung perusahaan sekaligus mengelola risiko investasi.

  1. 1Perusahaan yang akan menerbitkan saham/obligasi baru mengidentifikasi potensi kesulitan dalam penjualan.
  2. 2Perusahaan menjalin kesepakatan dengan pihak ketiga (investor/institusi) untuk menyediakan jaminan Back Stop.
  3. 3Jika penjualan instrumen baru tidak mencapai target, pihak pemberi Back Stop akan membeli sisa instrumen yang tidak terserap.
  4. 4Perusahaan berhasil mendapatkan dana yang dibutuhkan, sementara pemberi Back Stop memperoleh instrumen dengan potensi imbal hasil.

Contoh Penggunaan Back Stop dalam Trading

Misalkan sebuah perusahaan teknologi membutuhkan dana segar sebesar Rp 1 triliun melalui penerbitan obligasi baru. Namun, kondisi pasar sedang tidak stabil. Perusahaan menjalin kesepakatan dengan sebuah bank investasi besar untuk memberikan Back Stop. Bank tersebut berkomitmen untuk membeli obligasi yang tidak laku terjual hingga mencapai target Rp 1 triliun. Jika hanya Rp 700 miliar obligasi yang berhasil dijual ke publik, bank investasi akan membeli sisanya sebesar Rp 300 miliar, memastikan perusahaan mendapatkan dana yang dibutuhkan.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Penerbitan Saham, Obligasi, Manajemen Risiko, Modal Perusahaan, Investor Institusional

Pertanyaan Umum tentang Back Stop

Apakah Back Stop hanya berlaku untuk perusahaan publik?

Tidak, Back Stop dapat berlaku untuk perusahaan swasta maupun publik yang sedang membutuhkan pendanaan melalui penerbitan instrumen keuangan baru.

Siapa yang paling diuntungkan dari Back Stop?

Perusahaan penerbit diuntungkan karena kepastian pendanaan. Pemberi Back Stop berpotensi mendapatkan keuntungan dari pembelian instrumen dengan harga yang mungkin lebih baik atau imbal hasil yang menarik, sambil mengelola risikonya.

Apakah Back Stop sama dengan underwriting?

Back Stop memiliki konsep serupa dengan underwriting, di mana pihak ketiga menjamin penjualan instrumen keuangan. Namun, Back Stop lebih spesifik merujuk pada komitmen untuk menyerap sisa instrumen yang tidak terjual, sementara underwriting bisa mencakup seluruh proses penjaminan emisi.