4 menit baca 854 kata Diperbarui: 14 Januari 2026
🎯 Poin Penting tentang Borrowing Base
- Borrowing Base menentukan batas maksimal pinjaman berdasarkan nilai aset yang dijadikan jaminan.
- Jenis aset yang umum dijadikan jaminan meliputi inventaris, piutang, properti, dan barang modal.
- Lembaga keuangan menetapkan Loan-to-Value (LTV) ratio sebagai persentase nilai aset yang dapat dijadikan pinjaman.
- Perhitungan yang akurat dan transparan sangat penting untuk meminimalkan risiko bagi peminjam dan pemberi pinjaman.
📑 Daftar Isi
Apa itu Borrowing Base?
Borrowing Base adalah Borrowing Base adalah nilai total aset yang dijadikan dasar oleh lembaga keuangan untuk menentukan batas maksimal pinjaman yang bisa diajukan oleh peminjam.
Penjelasan Lengkap tentang Borrowing Base
Borrowing Base merupakan sebuah konsep fundamental dalam dunia keuangan, khususnya yang berkaitan dengan pengajuan kredit atau pinjaman, baik oleh individu maupun perusahaan. Istilah ini merujuk pada nilai agregat dari aset-aset tertentu yang memenuhi kriteria tertentu dan dapat dijadikan sebagai dasar penentuan batas maksimal pinjaman yang dapat diberikan oleh lembaga keuangan.
Apa itu Borrowing Base?
Secara sederhana, borrowing base adalah perhitungan yang dilakukan oleh bank atau lembaga keuangan untuk mengukur seberapa besar pinjaman yang dapat diberikan kepada nasabah berdasarkan nilai aset yang dijadikan sebagai agunan atau jaminan. Ini bukan sekadar menjumlahkan semua aset yang dimiliki peminjam, melainkan hanya aset-aset yang memenuhi syarat dan memiliki likuiditas yang memadai untuk dijadikan jaminan.
Aset yang Umum Digunakan dalam Perhitungan Borrowing Base
Tidak semua aset dapat serta-merta dimasukkan dalam perhitungan borrowing base. Lembaga keuangan biasanya memiliki kriteria khusus. Aset yang paling umum dipertimbangkan antara lain:
- Inventaris (Persediaan): Barang-barang yang siap dijual atau dalam proses produksi. Nilai inventaris yang dapat dihitung biasanya dibatasi oleh persentase tertentu dari nilai buku atau nilai pasar.
- Piutang Usaha (Accounts Receivable): Tagihan yang belum dibayar oleh pelanggan. Piutang yang lebih tua atau yang diragukan pembayarannya mungkin memiliki persentase yang lebih rendah atau bahkan tidak dimasukkan.
- Properti (Real Estate): Tanah dan bangunan yang dimiliki. Nilai properti yang dijadikan jaminan akan dinilai oleh penilai independen.
- Barang Modal (Equipment): Mesin, kendaraan, atau peralatan lain yang digunakan dalam operasional bisnis.
Peran Loan-to-Value (LTV) Ratio
Lembaga keuangan tidak akan memberikan pinjaman sebesar 100% dari nilai aset yang dijadikan jaminan. Mereka akan menetapkan Loan-to-Value (LTV) ratio. LTV adalah persentase dari nilai aset yang dapat dipinjamkan. Misalnya, jika sebuah aset dinilai Rp 1 miliar dan LTV yang ditetapkan adalah 80%, maka nilai aset tersebut yang dapat digunakan untuk perhitungan borrowing base adalah Rp 800 juta. Besarnya jumlah pinjaman yang dapat diajukan oleh peminjam kemudian dihitung berdasarkan total nilai aset yang telah dikalikan dengan LTV masing-masing.
Pentingnya Akurasi dan Analisis
Perhitungan borrowing base bisa menjadi proses yang kompleks dan memerlukan analisis yang cermat dari kedua belah pihak. Peminjam harus memastikan bahwa nilai aset yang mereka ajukan untuk perhitungan borrowing base adalah akurat, dapat dipertanggungjawabkan, dan didukung oleh dokumentasi yang memadai. Hal ini krusial untuk meminimalisir risiko, seperti penurunan nilai aset akibat kondisi pasar atau masalah operasional, yang dapat menyebabkan peminjam kesulitan dalam membayar kembali pinjamannya.
Cara Menggunakan Borrowing Base
Memahami konsep Borrowing Base sangat penting bagi pelaku bisnis yang berencana mengajukan pinjaman atau kredit dengan jaminan aset. Ini membantu dalam memperkirakan jumlah pinjaman yang realistis dan mempersiapkan aset yang tepat sebagai jaminan.
- 1Identifikasi aset yang berpotensi dijadikan jaminan (inventaris, piutang, properti, dll.).
- 2Peroleh penilaian independen terhadap aset-aset tersebut untuk mengetahui nilai pasar yang sebenarnya.
- 3Konsultasikan dengan calon pemberi pinjaman mengenai kriteria aset dan LTV ratio yang mereka terapkan.
- 4Hitung estimasi borrowing base Anda berdasarkan aset yang memenuhi syarat dan LTV yang ditetapkan untuk menentukan potensi jumlah pinjaman.
Contoh Penggunaan Borrowing Base dalam Trading
Sebuah perusahaan manufaktur ingin mengajukan kredit modal kerja. Mereka memiliki inventaris senilai Rp 2 miliar dan piutang usaha senilai Rp 1 miliar. Bank menetapkan LTV untuk inventaris sebesar 70% dan untuk piutang usaha sebesar 60%.
Perhitungan Borrowing Base:
- Inventaris: Rp 2 miliar * 70% = Rp 1.4 miliar
- Piutang Usaha: Rp 1 miliar * 60% = Rp 0.6 miliar
- Total Borrowing Base: Rp 1.4 miliar + Rp 0.6 miliar = Rp 2 miliar
Dengan borrowing base sebesar Rp 2 miliar, perusahaan tersebut dapat mengajukan pinjaman hingga maksimal jumlah tersebut.
Istilah Terkait
Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Agunan, Jaminan, Kredit Modal Kerja, Loan-to-Value (LTV), Analisis Kredit, Likuiditas Aset
Pertanyaan Umum tentang Borrowing Base
Apakah semua aset bisa masuk dalam perhitungan Borrowing Base?
Tidak, hanya aset-aset tertentu yang memenuhi kriteria dan memiliki likuiditas yang baik yang dapat dimasukkan dalam perhitungan Borrowing Base, seperti inventaris, piutang, properti, dan barang modal.
Apa perbedaan utama antara Borrowing Base dan nilai total aset?
Borrowing Base adalah nilai aset yang telah disesuaikan berdasarkan persentase tertentu (LTV) dan kriteria kelayakan yang ditetapkan oleh pemberi pinjaman, sedangkan nilai total aset adalah jumlah keseluruhan aset tanpa penyesuaian tersebut.
Bagaimana jika nilai aset saya turun setelah pinjaman disetujui?
Penurunan nilai aset dapat memengaruhi borrowing base Anda dan berpotensi memicu pelanggaran perjanjian pinjaman (loan covenant). Pemberi pinjaman mungkin akan meminta tambahan jaminan atau penyesuaian lain untuk mengatasi hal ini.
Siapa yang menentukan LTV ratio dalam perhitungan Borrowing Base?
LTV ratio ditetapkan oleh lembaga keuangan atau pemberi pinjaman berdasarkan kebijakan internal mereka, profil risiko peminjam, dan jenis aset yang dijadikan jaminan.