4 menit baca 749 kata Diperbarui: 14 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang Consignment

  • Consignment adalah mekanisme penjualan barang di mana pemilik (konsinyor) menitipkan barang kepada pihak lain (konsinyee) untuk dijual.
  • Konsinyee mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual dan harga beli, sementara konsinyor menerima pembayaran dari hasil penjualan.
  • Risiko kepemilikan barang tetap berada pada konsinyor hingga barang terjual.
  • Meskipun risiko utama pada konsinyor, konsinyee tetap menghadapi risiko barang tidak laku atau rusak.
  • Strategi ini dapat mengurangi risiko bagi pemilik barang dan menjadi alternatif investasi.

📑 Daftar Isi

Apa itu Consignment?

Consignment adalah Consignment adalah perjanjian di mana pihak (konsinyor) menitipkan barang untuk dijual oleh pihak lain (konsinyee) dengan sistem bagi hasil atau komisi.

Penjelasan Lengkap tentang Consignment

Apa itu Consignment?

Dalam dunia trading dan investasi, Consignment merujuk pada sebuah model bisnis atau perjanjian di mana satu pihak, yang disebut konsinyor, menitipkan atau mengirimkan barang dagangannya kepada pihak lain, yang disebut konsinyee, untuk dijual atas nama konsinyor. Model ini seringkali dijumpai dalam industri ritel, barang seni, atau produk dengan nilai tambah tinggi.

Mekanisme Kerja Consignment

Mekanisme kerja consignment beroperasi sebagai berikut:

  • Penyerahan Barang: Konsinyor menyerahkan sejumlah barang kepada konsinyee. Kepemilikan sah atas barang tersebut masih tetap berada di tangan konsinyor.
  • Penjualan oleh Konsinyee: Konsinyee bertanggung jawab untuk memasarkan dan menjual barang tersebut kepada konsumen akhir. Konsinyee biasanya menetapkan harga jual sendiri, yang seringkali lebih tinggi dari harga beli dari konsinyor.
  • Pembagian Keuntungan: Jika barang berhasil terjual, konsinyee akan mendapatkan keuntungan dari selisih antara harga jual kepada konsumen dan harga beli dari konsinyor (atau harga yang disepakati). Konsinyor kemudian akan menerima pembayaran dari konsinyee sesuai dengan harga barang yang terjual.
  • Pembayaran dan Pengembalian: Konsinyee wajib membayarkan hasil penjualan kepada konsinyor dalam jangka waktu yang telah disepakati. Barang yang tidak berhasil terjual biasanya akan dikembalikan kepada konsinyor.

Keuntungan dan Risiko dalam Consignment

Model consignment menawarkan keuntungan sekaligus risiko bagi kedua belah pihak:

  • Bagi Konsinyor: Keuntungan utamanya adalah risiko yang lebih rendah terkait dengan penjualan langsung. Konsinyor tidak perlu mengeluarkan biaya operasional untuk membuka toko atau melakukan pemasaran secara intensif. Namun, konsinyor juga memiliki risiko bahwa barang tidak terjual dan harus menanggung biaya pengiriman kembali.
  • Bagi Konsinyee: Keuntungan bagi konsinyee adalah potensi mendapatkan penghasilan tanpa harus mengeluarkan modal besar untuk membeli stok barang di awal. Namun, konsinyee menghadapi risiko barang tidak laku, risiko kerusakan barang selama dalam pengawasan, dan risiko keterlambatan pembayaran dari konsumen jika menggunakan sistem kredit.

Consignment sebagai Strategi Investasi

Dalam konteks investasi, consignment dapat dilihat sebagai alternatif untuk memperoleh penghasilan pasif. Investor dapat bertindak sebagai konsinyor, menitipkan aset (misalnya, barang koleksi atau properti) kepada pihak yang memiliki keahlian dalam menjualnya. Pendapatan diperoleh dari persentase keuntungan penjualan, mirip dengan bunga atau dividen dari investasi tradisional seperti saham atau obligasi, namun dengan mekanisme yang berbeda.

Cara Menggunakan Consignment

Memahami dan menerapkan model consignment dalam bisnis atau sebagai strategi investasi memerlukan pemahaman yang jelas tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak.

  1. 1Langkah 1: Identifikasi potensi produk atau aset yang cocok untuk model consignment.
  2. 2Langkah 2: Cari mitra (konsinyee) yang memiliki reputasi baik dan jangkauan pasar yang sesuai.
  3. 3Langkah 3: Buat perjanjian consignment yang jelas mengenai harga, komisi, jangka waktu, dan penanganan barang yang tidak terjual atau rusak.
  4. 4Langkah 4: Pantau kinerja penjualan secara berkala dan lakukan evaluasi terhadap efektivitas model consignment.

Contoh Penggunaan Consignment dalam Trading

Seorang pengrajin perhiasan (konsinyor) menitipkan beberapa karya uniknya ke sebuah galeri seni (konsinyee) di pusat kota. Galeri tersebut menjual perhiasan tersebut seharga Rp 5.000.000 per buah, sementara harga yang disepakati dengan pengrajin adalah Rp 3.000.000. Jika galeri berhasil menjual 10 buah perhiasan dalam sebulan, pengrajin akan menerima Rp 30.000.000, dan galeri akan mendapatkan keuntungan Rp 20.000.000 dari penjualan tersebut.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Konsinyor, Konsinyee, Margin Keuntungan, Stok Barang, Model Bisnis, Perjanjian Jual Beli

Pertanyaan Umum tentang Consignment

Siapa yang menanggung risiko jika barang consignment rusak?

Secara umum, risiko kepemilikan barang tetap berada pada konsinyor hingga barang terjual. Namun, jika kerusakan terjadi saat barang berada dalam pengawasan konsinyee, maka konsinyee bisa bertanggung jawab tergantung pada perjanjian yang disepakati.

Bagaimana cara menentukan harga jual dalam consignment?

Harga jual biasanya ditentukan oleh konsinyee, namun seringkali ada kesepakatan atau batasan harga minimum dari konsinyor untuk memastikan margin keuntungan yang wajar bagi kedua belah pihak.

Apakah consignment hanya berlaku untuk barang fisik?

Meskipun paling umum untuk barang fisik, konsep consignment juga bisa diterapkan pada aset lain seperti karya seni, barang antik, atau bahkan properti, di mana pihak ketiga membantu menjualnya atas nama pemilik.