4 menit baca 814 kata Diperbarui: 14 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang Current Ratio

  • Current Ratio mengukur likuiditas jangka pendek perusahaan.
  • Rasio dihitung dengan membagi Aset Lancar dengan Kewajiban Lancar.
  • Nilai ideal Current Ratio umumnya berkisar antara 1,5 hingga 3.
  • Rasio yang terlalu tinggi bisa menandakan inefisiensi aset.
  • Rasio yang terlalu rendah mengindikasikan risiko gagal bayar kewajiban jangka pendek.

📑 Daftar Isi

Apa itu Current Ratio?

Current Ratio adalah Rasio keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan membandingkan aset lancar dan kewajiban lancar.

Penjelasan Lengkap tentang Current Ratio

Current Ratio, atau Rasio Lancar, adalah salah satu indikator keuangan fundamental yang sangat penting, terutama bagi para investor dan analis yang menganalisis kesehatan finansial suatu perusahaan dari perspektif likuiditas jangka pendek. Rasio ini secara spesifik mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi seluruh kewajiban finansialnya yang jatuh tempo dalam kurun waktu satu tahun ke depan menggunakan aset-asetnya yang juga dapat diubah menjadi kas dalam periode yang sama.

Apa itu Aset Lancar dan Kewajiban Lancar?

  • Aset Lancar (Current Assets): Ini mencakup semua sumber daya yang dimiliki perusahaan yang diharapkan dapat dikonversi menjadi kas, dijual, atau dikonsumsi dalam siklus operasi normal perusahaan, yang umumnya tidak lebih dari satu tahun. Contohnya meliputi kas dan setara kas, piutang usaha, persediaan, dan investasi jangka pendek.
  • Kewajiban Lancar (Current Liabilities): Ini adalah semua utang dan kewajiban perusahaan yang harus dibayar atau dilunasi dalam kurun waktu satu tahun. Contohnya termasuk utang usaha, utang gaji, bagian utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam setahun, dan pendapatan diterima di muka.

Rumus Perhitungan Current Ratio

Perhitungan Current Ratio sangatlah sederhana:

Current Ratio = Total Aset Lancar / Total Kewajiban Lancar

Interpretasi Nilai Current Ratio

Nilai Current Ratio memberikan gambaran langsung mengenai posisi likuiditas perusahaan:

  • Rasio > 1: Menunjukkan bahwa perusahaan memiliki aset lancar lebih besar daripada kewajiban lancarnya, yang secara umum merupakan pertanda baik.
  • Rasio = 1: Aset lancar sama dengan kewajiban lancar. Perusahaan memiliki cukup aset untuk menutupi kewajibannya, namun tidak ada 'bantalan' yang signifikan.
  • Rasio < 1: Kewajiban lancar lebih besar daripada aset lancar. Ini adalah sinyal peringatan dini bahwa perusahaan mungkin kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendeknya dan berisiko mengalami kesulitan likuiditas.

Rentang Nilai yang Dianggap Baik

Secara umum, Current Ratio yang dianggap sehat dan menunjukkan manajemen keuangan yang baik berada di kisaran 1,5 hingga 3. Angka ini mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki cukup likuiditas untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya dengan nyaman, sambil tetap menjaga efisiensi dalam pengelolaan asetnya.

Potensi Masalah dengan Nilai Ekstrem

  • Current Ratio Terlalu Tinggi (misalnya, di atas 3 atau 4): Meskipun terlihat aman, rasio yang sangat tinggi bisa menandakan bahwa perusahaan tidak mengelola aset lancarnya secara efisien. Misalnya, terlalu banyak kas yang menganggur atau persediaan yang menumpuk tanpa terjual, yang bisa mengurangi profitabilitas.
  • Current Ratio Terlalu Rendah (misalnya, di bawah 1): Ini adalah indikator kuat adanya potensi masalah likuiditas. Perusahaan mungkin menghadapi kesulitan dalam membayar tagihan, pemasok, atau kewajiban finansial lainnya yang jatuh tempo, yang dapat berdampak negatif pada operasional dan reputasi perusahaan.

Dalam konteks trading dan investasi, analisis Current Ratio adalah bagian integral dari analisis fundamental untuk menilai risiko dan potensi keuntungan dari suatu instrumen investasi.

Cara Menggunakan Current Ratio

Analis keuangan, investor, dan trader menggunakan Current Ratio untuk menilai kesehatan likuiditas jangka pendek perusahaan dan potensi risikonya.

  1. 1Identifikasi laporan keuangan perusahaan, khususnya neraca (balance sheet).
  2. 2Temukan nilai 'Total Aset Lancar' dan 'Total Kewajiban Lancar'.
  3. 3Hitung Current Ratio dengan membagi Total Aset Lancar dengan Total Kewajiban Lancar.
  4. 4Bandingkan hasil rasio dengan standar industri, tren historis perusahaan, dan rasio perusahaan pesaing untuk interpretasi yang lebih mendalam.

Contoh Penggunaan Current Ratio dalam Trading

Misalkan Anda sedang mempertimbangkan untuk membeli saham PT ABC. Dari laporan keuangan kuartal terakhir, Anda menemukan:
Total Aset Lancar PT ABC: Rp 2.500.000.000
Total Kewajiban Lancar PT ABC: Rp 1.000.000.000

Maka, Current Ratio PT ABC adalah: Rp 2.500.000.000 / Rp 1.000.000.000 = 2,5.

Nilai 2,5 ini berada dalam rentang ideal (1,5-3), menunjukkan bahwa PT ABC memiliki kemampuan yang baik untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya. Ini bisa menjadi salah satu faktor positif yang mendukung keputusan investasi Anda, namun tetap perlu dianalisis bersama rasio keuangan lainnya.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Aset Lancar, Kewajiban Lancar, Likuiditas, Analisis Fundamental, Rasio Keuangan, Neraca

Pertanyaan Umum tentang Current Ratio

Apakah Current Ratio hanya penting untuk perusahaan besar?

Tidak, Current Ratio penting untuk semua jenis perusahaan, dari startup hingga korporasi besar, karena mengukur kesehatan finansial dasar.

Bagaimana jika Current Ratio perusahaan sangat tinggi, apakah itu selalu baik?

Tidak selalu. Current Ratio yang sangat tinggi bisa menandakan inefisiensi dalam penggunaan aset, seperti terlalu banyak persediaan yang tidak terjual atau kas yang menganggur, yang dapat mengurangi potensi profitabilitas.

Bagaimana cara meningkatkan Current Ratio yang rendah?

Beberapa cara untuk meningkatkan Current Ratio yang rendah antara lain dengan meningkatkan penjualan aset lancar (misalnya, mempercepat penagihan piutang), mengurangi persediaan, atau mencari pendanaan jangka panjang untuk melunasi sebagian kewajiban lancar.