5 menit baca 919 kata Diperbarui: 14 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang Dividend Discount Model (DDM)

  • DDM menilai saham berdasarkan nilai sekarang dari dividen masa depan yang diproyeksikan.
  • Metode ini mengasumsikan dividen dibayarkan secara konsisten dan dapat dietimasi.
  • Tingkat diskon dalam DDM mencerminkan tingkat pengembalian yang diharapkan investor dan risiko investasi.
  • DDM membantu investor menentukan apakah harga saham wajar, terlalu mahal, atau undervalue.
  • Model ini paling efektif untuk perusahaan yang stabil dan rutin membayar dividen.

📑 Daftar Isi

Apa itu Dividend Discount Model (DDM)?

Dividend Discount Model (DDM) adalah Model Diskon Dividen (DDM) adalah metode penilaian saham yang menghitung nilai intrinsik berdasarkan diskonto aliran dividen masa depan yang diharapkan perusahaan.

Penjelasan Lengkap tentang Dividend Discount Model (DDM)

Dividend Discount Model (DDM) atau Model Diskon Dividen adalah salah satu pendekatan fundamental dalam analisis sekuritas yang digunakan untuk memperkirakan nilai intrinsik suatu saham. Inti dari model ini adalah prinsip bahwa nilai suatu aset investasi adalah jumlah dari semua arus kas masa depan yang diharapkan akan dihasilkan oleh aset tersebut, yang didiskontokan kembali ke nilai saat ini. Dalam konteks saham, arus kas yang dimaksud adalah dividen yang dibayarkan oleh perusahaan kepada para pemegang sahamnya.

Prinsip Dasar DDM

DDM bekerja berdasarkan asumsi bahwa nilai sebuah saham dapat ditentukan dengan menghitung nilai sekarang (present value) dari seluruh dividen yang diproyeksikan akan dibayarkan oleh perusahaan di masa depan. Proses ini melibatkan diskonto (menurunkan nilai) dividen masa depan tersebut menggunakan tingkat diskonto yang sesuai. Tingkat diskon ini merefleksikan ekspektasi pengembalian investor serta tingkat risiko yang melekat pada investasi tersebut.

Cara Kerja dan Perhitungan

Secara konseptual, perhitungan DDM adalah sebagai berikut:

  • Proyeksi Dividen Masa Depan: Investor atau analis perlu memproyeksikan berapa jumlah dividen yang akan dibayarkan perusahaan di periode mendatang.
  • Penentuan Tingkat Diskonto: Tingkat diskonto yang digunakan biasanya merupakan cost of equity perusahaan, yang mencakup tingkat pengembalian bebas risiko ditambah premi risiko pasar dan premi risiko spesifik perusahaan.
  • Perhitungan Nilai Sekarang: Setiap dividen masa depan yang diproyeksikan kemudian didiskontokan kembali ke nilai sekarang menggunakan tingkat diskonto tersebut.
  • Penjumlahan Nilai Sekarang: Total dari seluruh nilai sekarang dividen masa depan inilah yang dianggap sebagai nilai intrinsik saham menurut DDM.

Rumus umum DDM adalah:

Nilai Saham = D1 / (k - g)

Dimana:

  • D1 = Dividen yang diharapkan dibayarkan pada periode mendatang (tahun depan).
  • k = Tingkat diskonto atau tingkat pengembalian yang diharapkan investor.
  • g = Tingkat pertumbuhan dividen yang stabil dan berkelanjutan.

Model ini paling sederhana ketika mengasumsikan pertumbuhan dividen yang konstan (Gordon Growth Model).

Keunggulan dan Keterbatasan DDM

Keunggulan:

  • Memberikan dasar penilaian yang logis berdasarkan arus kas yang diterima investor.
  • Relatif mudah dipahami dan diterapkan untuk perusahaan yang memenuhi kriteria.

Keterbatasan:

  • Sangat bergantung pada akurasi proyeksi dividen dan tingkat pertumbuhan.
  • Tidak cocok untuk perusahaan yang tidak membayar dividen, membayar dividen tidak teratur, atau yang pertumbuhan dividennya sangat fluktuatif di awal.
  • Sensitif terhadap perubahan kecil pada tingkat diskonto atau tingkat pertumbuhan.
  • Tidak secara langsung memperhitungkan faktor-faktor lain seperti nilai aset, potensi pertumbuhan pendapatan non-dividen, atau peristiwa korporasi.

Meskipun memiliki keterbatasan, DDM tetap menjadi alat yang berharga bagi investor yang memahami karakteristik perusahaan dan mampu membuat asumsi yang realistis.

Cara Menggunakan Dividend Discount Model (DDM)

DDM digunakan untuk memperkirakan nilai intrinsik saham dengan mendiskontokan dividen masa depan yang diharapkan. Investor membandingkan nilai intrinsik ini dengan harga pasar saham untuk membuat keputusan investasi.

  1. 1Identifikasi perusahaan yang secara konsisten membayar dividen dan memiliki riwayat pertumbuhan dividen yang stabil.
  2. 2Proyeksikan jumlah dividen yang akan dibayarkan di masa depan (misalnya, untuk satu periode atau dengan tingkat pertumbuhan konstan).
  3. 3Tentukan tingkat diskonto yang sesuai, yang mencerminkan risiko investasi dan pengembalian yang diharapkan.
  4. 4Hitung nilai sekarang dari seluruh dividen masa depan yang diproyeksikan.
  5. 5Bandingkan nilai intrinsik yang dihitung dengan harga pasar saham saat ini untuk menentukan apakah saham tersebut undervalued, overvalued, atau fair value.

Contoh Penggunaan Dividend Discount Model (DDM) dalam Trading

Misalkan seorang investor ingin menilai saham PT Maju Terus yang diperkirakan akan membayar dividen sebesar Rp 100 per saham tahun depan (D1), dan dividen tersebut diharapkan tumbuh sebesar 5% per tahun (g). Investor tersebut memiliki tingkat pengembalian yang diharapkan sebesar 12% per tahun (k). Menggunakan Gordon Growth Model (bentuk sederhana DDM):

Nilai Intrinsik Saham = D1 / (k - g)

Nilai Intrinsik Saham = Rp 100 / (0.12 - 0.05)

Nilai Intrinsik Saham = Rp 100 / 0.07

Nilai Intrinsik Saham = Rp 1.428,57

Jika harga saham PT Maju Terus saat ini diperdagangkan di pasar sebesar Rp 1.200, maka berdasarkan DDM, saham ini dianggap undervalued (lebih murah dari nilai intrinsiknya) dan mungkin menarik untuk dibeli. Sebaliknya, jika harga pasar adalah Rp 1.600, maka saham tersebut dianggap overvalued.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Nilai Intrinsik Saham, Dividen, Tingkat Diskonto, Analisis Fundamental, Gordon Growth Model, Cost of Equity

Pertanyaan Umum tentang Dividend Discount Model (DDM)

Kapan Dividend Discount Model (DDM) paling efektif digunakan?

DDM paling efektif digunakan untuk menilai saham perusahaan yang sudah mapan, stabil, memiliki riwayat pembayaran dividen yang konsisten, dan diharapkan terus membayar dividen di masa depan dengan tingkat pertumbuhan yang dapat diprediksi.

Apa saja kelemahan utama dari DDM?

Kelemahan utama DDM adalah ketergantungannya pada akurasi proyeksi dividen dan tingkat pertumbuhan, serta ketidakcocokannya untuk perusahaan yang tidak membayar dividen atau memiliki pertumbuhan dividen yang tidak stabil.

Bagaimana investor menggunakan DDM dalam pengambilan keputusan trading?

Investor menggunakan DDM untuk menghitung nilai intrinsik saham. Jika nilai intrinsik lebih tinggi dari harga pasar, saham dianggap undervalued dan berpotensi dibeli. Sebaliknya, jika nilai intrinsik lebih rendah, saham dianggap overvalued dan mungkin dijual atau dihindari.