5 menit baca 926 kata Diperbarui: 14 Januari 2026
🎯 Poin Penting tentang Double Declining Balance Depreciation Method (DDB)
- DDB mengasumsikan aset menurun lebih cepat di awal masa manfaatnya.
- Tingkat depresiasi DDB adalah dua kali lipat dari metode garis lurus.
- Penghitungan DDB mengurangi nilai aset secara eksponensial setiap periode.
- Metode ini dapat mempercepat beban depresiasi di tahun-tahun awal.
- Penting untuk dicatat potensi ketidakkonsistenan dalam valuasi aset jangka panjang.
📑 Daftar Isi
- Definisi
- Penjelasan Lengkap
- Cara Menggunakan Double Declining Balance Depreciation Method (DDB)
- Contoh Penggunaan
- Istilah Terkait
- FAQ
Apa itu Double Declining Balance Depreciation Method (DDB)?
Double Declining Balance Depreciation Method (DDB) adalah Metode DDB adalah cara menghitung depresiasi aset yang mempercepat pengurangan nilainya di awal masa pakai, menggunakan dua kali tingkat depresiasi garis lurus.
Penjelasan Lengkap tentang Double Declining Balance Depreciation Method (DDB)
Metode Depresiasi Saldo Menurun Ganda (Double Declining Balance - DDB)
Metode Depresiasi Saldo Menurun Ganda, atau yang dikenal dengan akronim DDB (Double Declining Balance), adalah sebuah metode akuntansi yang digunakan untuk menghitung penyusutan nilai suatu aset tetap selama masa manfaatnya. Berbeda dengan metode garis lurus yang mengasumsikan penurunan nilai aset secara merata setiap periode, DDB dirancang untuk mencerminkan kenyataan bahwa banyak aset, terutama teknologi dan kendaraan, cenderung kehilangan nilainya lebih cepat di tahun-tahun awal penggunaannya.
Prinsip utama dari metode DDB adalah menerapkan tingkat depresiasi yang lebih tinggi di awal masa hidup aset, yang kemudian menurun seiring waktu. Tingkat depresiasi ini dihitung dengan mengalikan dua kali tingkat depresiasi yang akan diperoleh jika menggunakan metode garis lurus (straight-line depreciation). Rumus dasar untuk tingkat depresiasi garis lurus adalah 1 dibagi dengan masa manfaat aset (dalam tahun). Dengan DDB, tingkat depresiasi menjadi 2 dibagi dengan masa manfaat aset.
Secara matematis, penghitungan depresiasi tahunan menggunakan metode DDB adalah sebagai berikut:
- Tingkat Depresiasi DDB = (2 / Masa Manfaat Aset) x 100%
- Beban Depresiasi Tahunan = Tingkat Depresiasi DDB x Nilai Buku Aset Awal Periode
Penting untuk dicatat bahwa metode DDB tidak mengurangi nilai aset hingga nol. Penghitungan berhenti ketika nilai buku aset mencapai nilai residu atau nilai sisa (scrap value) yang telah ditentukan sebelumnya. Nilai residu adalah perkiraan nilai aset pada akhir masa manfaatnya.
Dalam konteks trading dan investasi, pemahaman mengenai metode DDB sangat relevan. Bagi investor, metode ini dapat memengaruhi laporan laba rugi perusahaan, karena beban depresiasi yang lebih tinggi di awal periode dapat mengurangi laba bersih. Hal ini dapat menjadi pertimbangan dalam menganalisis kinerja keuangan perusahaan. Meskipun DDB menawarkan manfaat percepatan beban depresiasi, para profesional keuangan dan investor perlu menyadari potensi ketidakkonsistenan dalam valuasi aset jangka panjang yang mungkin timbul akibat penurunan nilai yang eksponensial di awal.
Cara Menggunakan Double Declining Balance Depreciation Method (DDB)
Metode DDB digunakan untuk menghitung beban depresiasi aset yang lebih besar di awal masa pakai, dengan mengalikan dua kali tingkat depresiasi metode garis lurus pada nilai buku aset.
- 1Tentukan masa manfaat aset (dalam tahun) dan nilai residu (nilai sisa) aset.
- 2Hitung tingkat depresiasi metode garis lurus: 1 / Masa Manfaat Aset.
- 3Hitung tingkat depresiasi DDB: 2 x Tingkat Depresiasi Garis Lurus.
- 4Hitung beban depresiasi tahunan: Tingkat Depresiasi DDB x Nilai Buku Aset pada awal periode. Lakukan ini setiap tahun hingga nilai buku aset mencapai nilai residu.
Contoh Penggunaan Double Declining Balance Depreciation Method (DDB) dalam Trading
Misalkan sebuah perusahaan membeli mesin seharga Rp 100.000.000 dengan masa manfaat 5 tahun dan nilai residu Rp 10.000.000.
1. Â Masa Manfaat = 5 tahun
  Nilai Residu = Rp 10.000.000
2. Â Tingkat Depresiasi Garis Lurus = 1 / 5 = 0.2 atau 20%
3. Â Tingkat Depresiasi DDB = 2 x 0.2 = 0.4 atau 40%
4. Â Penghitungan Depresiasi Tahunan:
- Tahun 1: Beban Depresiasi = 40% x Rp 100.000.000 = Rp 40.000.000. Nilai Buku Akhir Tahun = Rp 100.000.000 - Rp 40.000.000 = Rp 60.000.000.
- Tahun 2: Beban Depresiasi = 40% x Rp 60.000.000 = Rp 24.000.000. Nilai Buku Akhir Tahun = Rp 60.000.000 - Rp 24.000.000 = Rp 36.000.000.
- Tahun 3: Beban Depresiasi = 40% x Rp 36.000.000 = Rp 14.400.000. Nilai Buku Akhir Tahun = Rp 36.000.000 - Rp 14.400.000 = Rp 21.600.000.
- Tahun 4: Beban Depresiasi = 40% x Rp 21.600.000 = Rp 8.640.000. Nilai Buku Akhir Tahun = Rp 21.600.000 - Rp 8.640.000 = Rp 12.960.000.
- Tahun 5: Beban Depresiasi dihitung sedemikian rupa agar nilai buku akhir tahun mencapai nilai residu. Dalam kasus ini, jika dihitung 40% dari Rp 12.960.000 akan menghasilkan Rp 5.184.000, sehingga nilai buku akhir tahun menjadi Rp 7.776.000. Namun, karena nilai residu adalah Rp 10.000.000, maka beban depresiasi pada tahun ke-5 adalah sebesar Rp 12.960.000 - Rp 10.000.000 = Rp 2.960.000. Nilai Buku Akhir Tahun = Rp 10.000.000.
Istilah Terkait
Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Depresiasi, Metode Garis Lurus, Nilai Residu, Nilai Buku, Aset Tetap, Akuntansi
Pertanyaan Umum tentang Double Declining Balance Depreciation Method (DDB)
Apa perbedaan utama antara metode DDB dan metode garis lurus?
Metode DDB mempercepat beban depresiasi di awal masa pakai aset, sedangkan metode garis lurus mendistribusikan beban depresiasi secara merata sepanjang masa manfaat aset.
Kapan metode DDB paling cocok digunakan?
Metode DDB paling cocok untuk aset yang cenderung kehilangan nilainya lebih cepat di tahun-tahun awal, seperti teknologi, kendaraan, atau peralatan yang cepat usang.
Apakah metode DDB selalu menghasilkan nilai buku aset yang lebih rendah di awal periode dibandingkan metode garis lurus?
Ya, karena tingkat depresiasinya lebih tinggi di awal, nilai buku aset akan lebih rendah secara signifikan di tahun-tahun pertama dibandingkan dengan metode garis lurus.
Bagaimana nilai residu mempengaruhi perhitungan DDB?
Nilai residu menetapkan batas bawah untuk nilai buku aset. Penghitungan depresiasi dengan metode DDB berhenti ketika nilai buku aset mencapai nilai residu, bahkan jika perhitungan tarif DDB masih menghasilkan angka depresiasi.