4 menit baca 746 kata Diperbarui: 14 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang Earnout

  • Earnout menunda sebagian pembayaran akuisisi hingga target kinerja tercapai.
  • Membantu pembeli mengurangi risiko akuisisi.
  • Memberikan potensi keuntungan lebih besar bagi penjual jika target tercapai.
  • Membutuhkan kesepakatan jelas mengenai target, periode, dan metrik pengukuran.
  • Dapat mempermudah negosiasi dan penyelesaian transaksi.

📑 Daftar Isi

Apa itu Earnout?

Earnout adalah Earnout adalah klausul dalam kesepakatan akuisisi atau investasi di mana sebagian pembayaran ditunda hingga target kinerja tertentu tercapai.

Penjelasan Lengkap tentang Earnout

Apa Itu Earnout?

Dalam dunia keuangan, terutama dalam transaksi merger dan akuisisi (M&A) atau investasi, Earnout merujuk pada sebuah klausul atau kesepakatan di mana sebagian dari total harga akuisisi atau investasi tidak dibayarkan di muka, melainkan akan dibayarkan di masa depan jika perusahaan yang diakuisisi atau diinvestasikan berhasil mencapai target kinerja tertentu dalam periode waktu yang telah ditentukan.

Mekanisme ini dirancang untuk menyelaraskan kepentingan antara pembeli dan penjual. Bagi pihak pembeli, earnout berfungsi sebagai mekanisme manajemen risiko. Pembeli dapat memastikan bahwa mereka tidak membayar penuh untuk sebuah aset atau perusahaan sebelum nilai yang dijanjikan benar-benar terealisasi. Jika perusahaan yang diakuisisi gagal mencapai target yang disepakati, pembeli akan membayar lebih sedikit, sehingga kerugian mereka terbatas.

Sementara itu, bagi pihak penjual atau pendiri perusahaan, earnout menawarkan potensi untuk mendapatkan pembayaran tambahan yang signifikan di luar nilai dasar yang disepakati. Ini bisa menjadi insentif kuat bagi tim manajemen yang tetap bertahan pasca-akuisisi untuk bekerja keras mencapai target yang ditetapkan.

Bagaimana Earnout Bekerja?

Struktur earnout bisa sangat bervariasi, namun umumnya melibatkan:

  • Target Kinerja: Ini bisa berupa target pendapatan, laba bersih, margin keuntungan, pertumbuhan pangsa pasar, atau metrik spesifik lainnya yang relevan dengan bisnis.
  • Periode Waktu: Jangka waktu di mana target tersebut harus dicapai, biasanya berkisar antara 1 hingga 5 tahun setelah transaksi selesai.
  • Ambang Batas Pembayaran (Threshold): Tingkat minimum kinerja yang harus dicapai agar pembayaran earnout dapat dicairkan.
  • Skala Pembayaran: Besaran pembayaran earnout yang akan diterima, yang bisa bersifat tetap, bertingkat sesuai pencapaian target, atau persentase dari pendapatan/laba tambahan.

Sebagai contoh, jika Perusahaan A mengakuisisi Perusahaan B senilai $100 juta. Kesepakatan earnout menetapkan bahwa $20 juta dari total pembayaran akan ditahan. Pembayaran $20 juta ini akan diberikan jika Perusahaan B mencapai laba bersih gabungan sebesar $5 juta selama 3 tahun pertama setelah akuisisi. Jika Perusahaan B hanya mencapai laba bersih $3 juta, maka sebagian dari $20 juta tersebut mungkin tidak akan dibayarkan, atau dibayarkan secara prorata tergantung kesepakatan.

Earnout dapat menjadi alat yang efektif untuk memfasilitasi transaksi yang mungkin sulit dicapai jika hanya mengandalkan penilaian tunggal di muka. Namun, penting bagi kedua belah pihak untuk merancang kesepakatan earnout dengan sangat cermat, mendefinisikan semua variabel secara jelas, dan memastikan bahwa metrik yang digunakan dapat diukur secara objektif untuk menghindari perselisihan di kemudian hari.

Cara Menggunakan Earnout

Dalam konteks M&A atau investasi, earnout digunakan sebagai alat negosiasi untuk menyelaraskan ekspektasi dan mengelola risiko antara pembeli dan penjual.

  1. 1Identifikasi target kinerja yang relevan dan terukur untuk bisnis yang diakuisisi/diinvestasikan.
  2. 2Tentukan periode waktu yang realistis untuk pencapaian target tersebut.
  3. 3Tetapkan ambang batas minimum dan skala pembayaran earnout yang adil bagi kedua belah pihak.
  4. 4Rumuskan klausul earnout secara rinci dalam perjanjian akuisisi/investasi, termasuk metode pengukuran dan penyelesaian sengketa.

Contoh Penggunaan Earnout dalam Trading

Dalam sebuah kesepakatan akuisisi startup teknologi, pembeli setuju untuk membayar Rp 50 Miliar di muka, ditambah potensi earnout hingga Rp 20 Miliar. Earnout ini akan dibayarkan secara bertahap selama 2 tahun jika startup tersebut berhasil mencapai target pengguna aktif bulanan (MAU) sebesar 100.000 pengguna di tahun pertama dan 200.000 pengguna di tahun kedua. Jika target MAU tidak tercapai, maka sebagian atau seluruh pembayaran earnout tidak akan diberikan.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Merger dan Akuisisi (M&A), Due Diligence, Valuasi Perusahaan, Pembayaran Kontinjensi, Perjanjian Jual Beli Saham

Pertanyaan Umum tentang Earnout

Apakah earnout hanya digunakan dalam akuisisi perusahaan besar?

Tidak, earnout dapat digunakan dalam berbagai skala transaksi, mulai dari akuisisi startup kecil hingga perusahaan besar, tergantung pada kompleksitas kesepakatan dan kebutuhan manajemen risiko.

Apa risiko utama dari kesepakatan earnout bagi penjual?

Risiko utama bagi penjual adalah jika perusahaan yang diakuisisi gagal mencapai target kinerja yang disepakati, mereka mungkin tidak menerima seluruh potensi pembayaran earnout yang diharapkan. Selain itu, kontrol operasional perusahaan setelah akuisisi dapat mempengaruhi kemampuan untuk mencapai target.

Bagaimana cara meminimalkan perselisihan dalam kesepakatan earnout?

Perselisihan dapat diminimalkan dengan mendefinisikan target, metrik pengukuran, dan periode waktu secara sangat spesifik dan objektif dalam perjanjian. Penggunaan pihak ketiga independen untuk audit atau mediasi juga dapat membantu.