4 menit baca 816 kata Diperbarui: 15 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang Follow-On Offering

  • FOO adalah penawaran saham tambahan setelah IPO oleh perusahaan yang sudah terdaftar di bursa.
  • Tujuan utama FOO adalah mengumpulkan modal untuk pertumbuhan dan ekspansi bisnis perusahaan.
  • Saham dalam FOO bisa berasal dari perusahaan (dilusi) atau dari pemegang saham yang ada (non-dilusi).
  • Proses FOO difasilitasi oleh bank investasi (underwriter) yang menentukan harga dan memasarkan saham.
  • FOO memberikan kesempatan investor membeli saham perusahaan publik dan bisa menjadi indikator kesehatan finansial perusahaan.

📑 Daftar Isi

Apa itu Follow-On Offering?

Follow-On Offering adalah Follow-On Offering (FOO) adalah penawaran saham tambahan oleh perusahaan publik setelah IPO untuk mengumpulkan modal guna ekspansi bisnis.

Penjelasan Lengkap tentang Follow-On Offering

Follow-On Offering (FOO), atau sering dikenal sebagai penawaran lanjutan, adalah suatu mekanisme penting dalam pasar modal yang memungkinkan perusahaan yang sahamnya telah diperdagangkan secara publik di bursa efek untuk menerbitkan dan menjual saham tambahan kepada investor. Proses ini terjadi setelah perusahaan tersebut berhasil melakukan Initial Public Offering (IPO) atau penawaran umum perdana.

Tujuan Utama Follow-On Offering

Motivasi utama di balik pelaksanaan FOO adalah untuk mengumpulkan modal tambahan. Dana yang terkumpul dari penjualan saham baru ini biasanya dialokasikan untuk berbagai keperluan strategis perusahaan, seperti:

  • Mendukung ekspansi bisnis dan operasional.
  • Membiayai penelitian dan pengembangan produk baru.
  • Melunasi utang perusahaan.
  • Melakukan akuisisi atau merger dengan perusahaan lain.
  • Meningkatkan modal kerja.

Jenis Saham dalam FOO

Penting untuk dicatat bahwa saham yang ditawarkan dalam FOO dapat berasal dari dua sumber utama:

  • Saham Baru (Primary Offering): Perusahaan menerbitkan saham baru yang belum ada sebelumnya. Hal ini akan meningkatkan jumlah total saham yang beredar dan berpotensi menyebabkan dilusi kepemilikan bagi pemegang saham lama.
  • Saham Lama (Secondary Offering): Saham yang dijual berasal dari pemegang saham yang sudah ada (misalnya, pendiri, investor institusional awal) yang ingin mengurangi atau menjual seluruh kepemilikan mereka. Dalam kasus ini, perusahaan tidak menerima dana segar, tetapi likuiditas bagi pemegang saham lama meningkat.

Peran Underwriter dalam FOO

Proses FOO biasanya tidak dilakukan secara mandiri oleh perusahaan. Perusahaan akan bekerja sama dengan bank investasi atau perusahaan sekuritas yang bertindak sebagai underwriter. Peran underwriter sangat krusial, meliputi:

  • Penentuan Harga: Menilai kondisi pasar dan keuangan perusahaan untuk menentukan harga penawaran saham yang wajar dan menarik bagi investor.
  • Pemasaran (Marketing): Mengorganisir kampanye pemasaran untuk menjangkau calon investor, baik institusional maupun ritel.
  • Penjaminan (Underwriting): Dalam beberapa model, underwriter dapat menjamin pembelian seluruh saham yang ditawarkan jika tidak terserap sepenuhnya oleh pasar.

Proses Investasi dalam FOO

Investor yang tertarik untuk berpartisipasi dalam FOO biasanya harus mengajukan pesanan pembelian melalui underwriter. Penawaran ini umumnya bersifat penawaran umum, yang berarti terbuka bagi investor individu maupun institusional untuk membeli saham tersebut.

FOO merupakan instrumen penting dalam ekosistem trading dan investasi. Bagi investor, ini menawarkan peluang untuk mendapatkan saham perusahaan publik yang sudah mapan. Bagi perusahaan, ini adalah cara efektif untuk mengakses pendanaan eksternal guna mendorong pertumbuhan. Selain itu, pelaksanaan FOO dan bagaimana sahamnya diserap oleh pasar dapat memberikan sinyal mengenai persepsi investor terhadap prospek dan kesehatan finansial perusahaan.

Cara Menggunakan Follow-On Offering

Investor dapat berpartisipasi dalam Follow-On Offering untuk membeli saham perusahaan publik yang sudah terdaftar, yang dapat menjadi peluang investasi baru atau penambahan posisi.

  1. 1Pantau pengumuman Follow-On Offering dari perusahaan publik yang Anda minati.
  2. 2Pelajari prospektus penawaran (jika tersedia) untuk memahami tujuan penggalangan dana, penggunaan dana, dan potensi risiko.
  3. 3Hubungi bank investasi atau perusahaan sekuritas yang bertindak sebagai underwriter untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan melakukan pemesanan.
  4. 4Tentukan jumlah saham yang ingin dibeli dan persiapkan dana yang dibutuhkan.
  5. 5Setelah proses penawaran selesai, saham akan dialokasikan ke akun Anda jika pesanan berhasil.

Contoh Penggunaan Follow-On Offering dalam Trading

Perusahaan teknologi 'TechMajestic' yang telah IPO tahun lalu, mengumumkan Follow-On Offering (FOO) untuk mengumpulkan dana sebesar Rp 500 Miliar guna membangun pusat riset baru. Saham ditawarkan pada harga Rp 1.500 per lembar, lebih rendah dari harga pasar saat ini Rp 1.700. Seorang investor ritel, Budi, melihat ini sebagai kesempatan untuk menambah kepemilikan di TechMajestic dengan harga diskon. Ia kemudian memesan 1.000 lembar saham melalui bank sekuritas yang menjadi underwriter penawaran tersebut.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Initial Public Offering (IPO), Saham, Bursa Efek, Underwriter, Dilusi Saham, Modal Perusahaan, Investor Institusional, Investor Ritel

Pertanyaan Umum tentang Follow-On Offering

Apakah Follow-On Offering selalu berarti perusahaan menerbitkan saham baru?

Tidak selalu. FOO bisa berupa penerbitan saham baru (yang meningkatkan jumlah saham beredar) atau penjualan saham oleh pemegang saham yang sudah ada (tanpa meningkatkan jumlah saham beredar).

Bagaimana cara investor mengetahui adanya Follow-On Offering?

Investor dapat mengetahuinya melalui pengumuman perusahaan di bursa efek, berita keuangan, atau melalui informasi dari bank investasi/sekuritas yang menjadi underwriter.

Apakah harga saham dalam Follow-On Offering selalu lebih rendah dari harga pasar?

Umumnya, harga FOO seringkali ditawarkan dengan sedikit diskon dibandingkan harga pasar untuk menarik minat investor, namun ini tidak selalu terjadi dan tergantung pada strategi perusahaan serta kondisi pasar.