4 menit baca 849 kata Diperbarui: 15 Januari 2026
🎯 Poin Penting tentang Going Concern
- Going Concern mengindikasikan kelangsungan hidup dan operasional perusahaan dalam jangka panjang.
- Investor dan trader memprioritaskan perusahaan Going Concern untuk potensi keuntungan dan pertumbuhan.
- Aliran kas stabil, pertumbuhan pendapatan positif, dan pengelolaan keuangan yang baik adalah indikator utama.
- Risiko kebangkrutan atau penutupan muncul jika perusahaan tidak lagi dianggap Going Concern.
- Analisis Going Concern krusial untuk pengambilan keputusan investasi yang bijak dan mitigasi risiko.
📑 Daftar Isi
Apa itu Going Concern?
Going Concern adalah Going Concern adalah asumsi bahwa perusahaan akan terus beroperasi di masa depan, biasanya lebih dari satu tahun, tanpa niat atau kebutuhan untuk likuidasi.
Penjelasan Lengkap tentang Going Concern
Apa itu Going Concern?
Dalam dunia keuangan, trading, dan investasi, istilah Going Concern merujuk pada asumsi fundamental bahwa sebuah entitas bisnis (perusahaan) akan terus beroperasi di masa depan yang dapat diperkirakan, tanpa niat atau kebutuhan untuk menghentikan operasinya atau melikuidasi asetnya. Asumsi ini biasanya mencakup periode setidaknya 12 bulan dari tanggal laporan keuangan disajikan. Sederhananya, Going Concern berarti perusahaan dipandang memiliki kapasitas dan niat untuk mempertahankan keberlanjutan bisnisnya.
Mengapa Going Concern Penting bagi Trader dan Investor?
Memahami status Going Concern sebuah perusahaan adalah langkah krusial sebelum melakukan investasi atau trading. Investor dan trader cenderung memilih perusahaan yang berada dalam status Going Concern karena:
- Potensi Pertumbuhan Jangka Panjang: Perusahaan yang stabil memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan menghasilkan keuntungan di masa depan.
- Mitigasi Risiko: Investasi pada perusahaan yang tidak Going Concern berisiko tinggi kehilangan modal karena potensi kebangkrutan atau penutupan mendadak.
- Kepercayaan Pasar: Status Going Concern mencerminkan kesehatan finansial dan operasional yang baik, yang dapat meningkatkan kepercayaan pasar dan nilai saham.
Sebaliknya, jika sebuah perusahaan tidak dianggap sebagai Going Concern, ini menandakan adanya risiko signifikan terhadap kelangsungan hidupnya, seperti kemungkinan besar menghadapi kebangkrutan atau penutupan dalam waktu dekat.
Indikator Perusahaan Going Concern
Beberapa faktor kunci dapat diidentifikasi sebagai indikator bahwa suatu perusahaan berstatus Going Concern:
- Aliran Kas Stabil: Perusahaan memiliki arus kas yang cukup dan stabil untuk mendanai operasional sehari-hari, membayar utang, dan berinvestasi.
- Pertumbuhan Pendapatan Konsisten: Adanya peningkatan pendapatan yang positif dan berkelanjutan menunjukkan daya saing dan permintaan pasar yang baik.
- Pengelolaan Keuangan yang Baik: Manajemen yang efektif dalam mengelola aset, liabilitas, dan ekuitas, serta kepatuhan terhadap kewajiban finansial.
- Stabilitas Pelanggan dan Pasar: Hubungan yang kuat dengan pelanggan dan kemampuan untuk beradaptasi serta mengatasi tantangan pasar.
- Loyalitas Karyawan: Tingkat retensi karyawan yang tinggi seringkali mencerminkan lingkungan kerja yang positif dan prospek perusahaan yang baik.
Tanda-tanda Perusahaan Bukan Going Concern
Sebaliknya, beberapa kondisi dapat mengindikasikan bahwa perusahaan tidak lagi Going Concern, antara lain:
- Kerugian Berkelanjutan: Mengalami kerugian finansial secara terus-menerus dalam beberapa periode pelaporan.
- Arus Kas Negatif: Pengeluaran operasional melebihi pemasukan kas, menunjukkan ketidakmampuan memenuhi kewajiban jangka pendek.
- Ketidakmampuan Memenuhi Kewajiban: Gagal membayar utang, bunga, atau kewajiban finansial lainnya tepat waktu.
- Masalah Hukum atau Regulasi: Menghadapi tuntutan hukum serius atau sanksi regulasi yang dapat mengancam kelangsungan operasional.
Ketika tanda-tanda ini muncul, investor dan trader harus segera mengevaluasi kembali keputusan investasi mereka, karena potensi kerugian modal menjadi sangat tinggi.
Cara Menggunakan Going Concern
Untuk menggunakan konsep Going Concern dalam trading dan investasi, Anda perlu menganalisis laporan keuangan dan indikator operasional perusahaan untuk menilai kelangsungan bisnisnya.
- 1Langkah 1: Analisis Laporan Keuangan Perusahaan (Neraca, Laba Rugi, Arus Kas) untuk mencari tanda-tanda stabilitas finansial.
- 2Langkah 2: Periksa Rasio Keuangan Kunci seperti rasio likuiditas, profitabilitas, dan solvabilitas untuk mengukur kesehatan finansial.
- 3Langkah 3: Evaluasi Prospek Bisnis dan Industri, termasuk pertumbuhan pendapatan, pangsa pasar, dan daya saing perusahaan.
- 4Langkah 4: Perhatikan Berita dan Pengumuman Perusahaan, serta faktor eksternal seperti kondisi ekonomi makro dan regulasi industri.
Contoh Penggunaan Going Concern dalam Trading
Seorang trader saham sedang mempertimbangkan untuk membeli saham PT. Maju Terus Tbk. Setelah menganalisis laporan keuangan kuartalan terakhir, trader tersebut melihat bahwa perusahaan menunjukkan:
- Pertumbuhan pendapatan sebesar 15% dibandingkan kuartal sebelumnya.
- Arus kas operasional yang positif dan meningkat.
- Rasio utang terhadap ekuitas yang sehat dan stabil.
- Tidak ada indikasi tuntutan hukum besar atau masalah regulasi yang mengancam.
Berdasarkan indikator-indikator ini, trader menyimpulkan bahwa PT. Maju Terus Tbk. berada dalam status Going Concern. Keputusan investasi pun dibuat dengan keyakinan lebih tinggi, karena perusahaan dinilai memiliki prospek operasional yang kuat untuk tahun-tahun mendatang, sehingga mengurangi risiko kerugian modal secara signifikan.
Istilah Terkait
Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Laporan Keuangan, Analisis Fundamental, Rasio Keuangan, Arus Kas, Likuidasi, Solvabilitas, Profitabilitas
Pertanyaan Umum tentang Going Concern
Apa perbedaan antara Going Concern dan Likuidasi?
Going Concern mengasumsikan perusahaan akan terus beroperasi di masa depan, sedangkan Likuidasi berarti perusahaan akan menghentikan operasinya dan menjual asetnya untuk melunasi kewajiban.
Siapa yang bertanggung jawab menilai status Going Concern?
Auditor independen memiliki tanggung jawab utama untuk menilai dan melaporkan apakah ada keraguan substansial mengenai kemampuan perusahaan untuk melanjutkan usahanya sebagai Going Concern. Manajemen perusahaan juga memiliki kewajiban untuk mengevaluasi dan mengungkapkan status ini.
Apakah perusahaan yang tidak Going Concern selalu bangkrut?
Tidak selalu, tetapi tidak Going Concern adalah indikator kuat adanya risiko kebangkrutan atau penutupan yang sangat tinggi. Perusahaan mungkin masih memiliki peluang untuk restrukturisasi atau penyelamatan, namun prospeknya sangat tidak pasti.