4 menit baca 836 kata Diperbarui: 15 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang Gross Debt Service Ratio (GDS)

  • GDS adalah rasio keuangan yang membandingkan total pembayaran utang tahunan dengan pendapatan kotor tahunan.
  • Rasio ini membantu menilai kemampuan peminjam untuk memenuhi kewajiban utangnya.
  • Pembayaran utang mencakup pokok dan bunga dari semua jenis pinjaman, termasuk KPR, kendaraan, dan kartu kredit.
  • Pendapatan kotor mencakup gaji, bonus, dan sumber penghasilan lainnya sebelum dipotong pajak.
  • GDS yang lebih rendah umumnya menunjukkan risiko kredit yang lebih kecil bagi pemberi pinjaman dan investor.

📑 Daftar Isi

Apa itu Gross Debt Service Ratio (GDS)?

Gross Debt Service Ratio (GDS) adalah Gross Debt Service Ratio (GDS) mengukur proporsi pendapatan kotor tahunan yang dialokasikan untuk pembayaran utang, indikator kelayakan kredit.

Penjelasan Lengkap tentang Gross Debt Service Ratio (GDS)

Gross Debt Service Ratio (GDS), atau Rasio Layanan Utang Kotor, adalah sebuah rasio keuangan krusial yang digunakan tidak hanya dalam dunia perbankan dan hipotek, tetapi juga relevan dalam konteks trading dan investasi untuk mengevaluasi kesehatan finansial suatu entitas, baik individu maupun perusahaan.

Apa itu Gross Debt Service Ratio (GDS)?

Secara fundamental, GDS adalah sebuah metrik yang dirancang untuk mengukur seberapa besar proporsi dari pendapatan kotor tahunan seseorang atau entitas yang dialokasikan untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang mereka. Rasio ini memberikan gambaran langsung mengenai kemampuan peminjam untuk melunasi utang-utangnya secara berkelanjutan.

Rumus Perhitungan GDS

Rumus umum untuk menghitung GDS adalah sebagai berikut:

GDS = (Total Pembayaran Utang Tahunan) / (Pendapatan Kotor Tahunan)

Komponen dalam Perhitungan GDS

  • Total Pembayaran Utang Tahunan: Ini mencakup seluruh pembayaran pokok dan bunga yang harus dibayarkan dalam kurun waktu satu tahun. Komponen ini meliputi pembayaran untuk berbagai jenis utang, seperti:
  • Pinjaman hipotek (KPR)
  • Pinjaman kendaraan
  • Utang kartu kredit
  • Pinjaman pribadi
  • Cicilan lainnya
  • Pendapatan Kotor Tahunan: Merujuk pada total pendapatan yang diterima sebelum dikurangi pajak dan potongan lainnya. Ini termasuk:
  • Gaji pokok
  • Bonus dan insentif
  • Penghasilan dari pekerjaan sampingan
  • Pendapatan investasi
  • Sumber penghasilan legal lainnya

Contoh Perhitungan GDS

Misalkan seorang trader memiliki total pembayaran utang tahunan sebesar Rp 200.000.000 dan pendapatan kotor tahunannya adalah Rp 800.000.000. Maka, GDS-nya akan dihitung sebagai berikut:

GDS = Rp 200.000.000 / Rp 800.000.000 = 0.25

Ini berarti 25% dari pendapatan kotor tahunan trader tersebut digunakan untuk membayar utang. Angka ini seringkali dinyatakan dalam persentase, sehingga GDS sebesar 0.25 sama dengan 25%.

Pentingnya GDS dalam Trading dan Investasi

Dalam dunia trading dan investasi, GDS berfungsi sebagai indikator penting untuk:

  • Menilai Risiko Kredit: Investor dan pemberi pinjaman menggunakan GDS untuk mengukur potensi risiko yang terkait dengan peminjam. GDS yang tinggi mengindikasikan bahwa peminjam mungkin kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran utangnya, yang berpotensi menimbulkan gagal bayar.
  • Stabilitas Keuangan: Bagi perusahaan yang sahamnya diperdagangkan, GDS yang tinggi dapat menjadi sinyal peringatan mengenai tingkat utang yang berlebihan dan potensi ketidakstabilan finansial. Hal ini dapat memengaruhi keputusan investasi.
  • Kelayakan Investasi: Investor yang mempertimbangkan aset yang didukung oleh pendapatan (seperti obligasi atau properti sewaan) akan menganalisis GDS dari entitas yang terlibat untuk memastikan keberlanjutan arus kas.

Umumnya, pemberi pinjaman lebih memilih GDS yang rendah, seringkali di bawah 30%, sebagai indikasi bahwa peminjam memiliki kapasitas finansial yang memadai untuk mendapatkan pinjaman baru. Memahami GDS membantu investor membuat keputusan yang lebih terinformasi dan meminimalkan risiko dalam portofolio mereka.

Cara Menggunakan Gross Debt Service Ratio (GDS)

GDS digunakan untuk mengevaluasi kelayakan kredit dan stabilitas keuangan, baik oleh pemberi pinjaman maupun investor dalam menganalisis potensi risiko.

  1. 1Identifikasi total pembayaran utang tahunan, termasuk pokok dan bunga dari semua pinjaman.
  2. 2Hitung total pendapatan kotor tahunan dari semua sumber.
  3. 3Bagi total pembayaran utang tahunan dengan pendapatan kotor tahunan untuk mendapatkan GDS.
  4. 4Bandingkan GDS yang dihasilkan dengan standar industri atau target risiko yang diinginkan untuk pengambilan keputusan.

Contoh Penggunaan Gross Debt Service Ratio (GDS) dalam Trading

Seorang investor sedang mempertimbangkan untuk membeli saham sebuah perusahaan teknologi. Ia melihat laporan keuangan perusahaan dan menemukan bahwa rasio GDS perusahaan tersebut adalah 45%. Ini berarti hampir setengah dari pendapatan kotor perusahaan dialokasikan untuk pembayaran utang. Investor tersebut menganggap rasio ini terlalu tinggi dan berpotensi menimbulkan risiko gagal bayar di masa depan, sehingga ia memutuskan untuk tidak berinvestasi pada saham perusahaan tersebut dan mencari alternatif investasi lain dengan profil risiko yang lebih rendah.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Debt-to-Income Ratio (DTI), Rasio Utang, Kelayakan Kredit, Arus Kas, Risiko Kredit, Pendapatan Kotor

Pertanyaan Umum tentang Gross Debt Service Ratio (GDS)

Apa perbedaan utama antara GDS dan DTI (Debt-to-Income Ratio)?

GDS secara spesifik berfokus pada pembayaran utang terkait perumahan (seperti KPR), sedangkan DTI mencakup semua jenis utang, termasuk cicilan mobil, kartu kredit, dan pinjaman pribadi, selain utang perumahan.

Berapa angka GDS yang dianggap ideal?

Angka GDS yang dianggap ideal bervariasi tergantung pada industri dan kebijakan pemberi pinjaman. Namun, secara umum, pemberi pinjaman seringkali menginginkan GDS di bawah 30% untuk dianggap sebagai peminjam yang layak.

Apakah GDS hanya relevan untuk pinjaman hipotek?

Meskipun GDS sangat umum digunakan dalam penilaian kelayakan pinjaman hipotek, rasio ini juga relevan dalam konteks trading dan investasi untuk mengevaluasi kesehatan finansial individu atau perusahaan secara lebih luas.