5 menit baca 981 kata Diperbarui: 15 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang Held-to-Maturity (HTM)

  • HTM adalah strategi investasi untuk memegang aset hingga jatuh tempo.
  • Fokus utama HTM adalah stabilitas pengembalian dan keamanan, bukan fluktuasi harga pasar.
  • Instrumen HTM umumnya mencakup obligasi pemerintah dan korporasi.
  • Keputusan untuk mengklasifikasikan aset sebagai HTM memerlukan niat yang jelas untuk menahannya hingga jatuh tempo.
  • Penjualan sebelum jatuh tempo dapat memaksa klasifikasi ulang aset dan berdampak pada laporan keuangan.

📑 Daftar Isi

Apa itu Held-to-Maturity (HTM)?

Held-to-Maturity (HTM) adalah Investasi Held-to-Maturity (HTM) adalah aset keuangan yang dimiliki hingga tanggal jatuh tempo, bukan untuk diperdagangkan aktif, demi kepastian pengembalian.

Penjelasan Lengkap tentang Held-to-Maturity (HTM)

Held-to-Maturity (HTM) adalah sebuah klasifikasi investasi yang sangat penting dalam dunia keuangan, khususnya bagi perusahaan dan investor institusional. Istilah ini merujuk pada aset keuangan, seperti obligasi, yang dibeli dengan niat tegas untuk dipegang sampai tanggal jatuh temponya tiba. Berbeda dengan instrumen yang diperdagangkan aktif untuk meraih keuntungan dari fluktuasi harga pasar, investasi HTM bertujuan untuk mendapatkan aliran pendapatan yang stabil dan kepastian nilai pokok investasi pada saat jatuh tempo.

Karakteristik Utama Held-to-Maturity (HTM)

  • Niat Kepemilikan Jangka Panjang: Kunci utama dari klasifikasi HTM adalah adanya niat yang jelas dan terdokumentasi untuk mempertahankan investasi hingga tanggal jatuh tempo. Ini bukan sekadar harapan, melainkan komitmen strategis.
  • Fokus pada Pendapatan Tetap: Investor yang memilih strategi HTM biasanya mencari sumber pendapatan yang dapat diprediksi, seperti kupon bunga dari obligasi. Mereka tidak terlalu memedulikan pergerakan harga pasar harian.
  • Keamanan dan Stabilitas: Dengan memegang aset hingga jatuh tempo, investor dapat mengeliminasi risiko kerugian akibat penurunan nilai pasar. Nilai pokok investasi dijamin akan dikembalikan pada saat jatuh tempo (dengan asumsi penerbit tidak mengalami gagal bayar).
  • Instrumen yang Umum: Instrumen yang paling sering diklasifikasikan sebagai HTM meliputi obligasi pemerintah (misalnya, Surat Utang Negara), obligasi korporasi yang memiliki peringkat kredit baik, dan surat berharga lainnya dengan tanggal jatuh tempo yang pasti.

Keuntungan Mengadopsi Strategi HTM

Penerapan strategi HTM menawarkan beberapa keuntungan signifikan bagi investor:

  • Pengurangan Biaya Transaksi: Dengan tidak melakukan jual beli secara aktif, investor dapat menghemat biaya komisi dan biaya transaksi lainnya yang terkait dengan perdagangan di pasar sekunder.
  • Kepastian Pengembalian: Investor dapat menghitung secara pasti berapa total pendapatan yang akan mereka terima dari investasi tersebut hingga jatuh tempo, termasuk pokok investasi dan bunga yang dijanjikan. Hal ini memudahkan perencanaan keuangan jangka panjang.
  • Perlindungan dari Volatilitas Pasar: Nilai investasi HTM tidak akan terpengaruh oleh fluktuasi harga pasar. Meskipun harga pasar obligasi mungkin naik atau turun, nilai buku investasi tetap sama sampai tanggal jatuh tempo.

Peraturan dan Implikasi Klasifikasi HTM

Klasifikasi HTM tidak hanya sekadar pilihan, tetapi juga tunduk pada peraturan akuntansi yang ketat. Untuk mengklasifikasikan suatu aset sebagai HTM, perusahaan harus memenuhi kriteria tertentu, terutama terkait niat kepemilikan. Jika perusahaan terpaksa atau berubah pikiran untuk menjual instrumen sebelum jatuh tempo, klasifikasi HTM tersebut akan batal.

Dalam kasus penjualan sebelum jatuh tempo, instrumen tersebut harus diklasifikasikan ulang, umumnya menjadi Available-for-Sale (AFS) atau Trading. Perubahan klasifikasi ini memiliki implikasi penting:

  • Penilaian Ulang: Aset yang diklasifikasikan ulang akan dinilai berdasarkan nilai pasar terkini (fair value).
  • Pelaporan Keuangan: Perubahan nilai pasar (keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi) akan dicatat dalam laporan keuangan perusahaan, yang dapat mempengaruhi laba bersih atau ekuitas. Ini berbeda dengan HTM yang nilainya tidak diubah berdasarkan harga pasar selama masih dipegang.

Oleh karena itu, keputusan untuk mengadopsi strategi HTM harus diambil dengan cermat, mempertimbangkan tujuan investasi, profil risiko, dan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan aset tersebut hingga jatuh tempo tanpa terpaksa menjualnya.

Cara Menggunakan Held-to-Maturity (HTM)

Held-to-Maturity (HTM) digunakan oleh investor institusional dan perusahaan untuk mengelola portofolio aset yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan stabil dan kepastian pengembalian hingga tanggal jatuh tempo.

  1. 1Identifikasi aset keuangan yang memiliki tanggal jatuh tempo pasti, seperti obligasi.
  2. 2Analisis tujuan investasi: apakah fokus pada pendapatan tetap dan keamanan hingga jatuh tempo, atau pada potensi keuntungan dari fluktuasi harga?
  3. 3Jika tujuan utama adalah pendapatan tetap dan keamanan hingga jatuh tempo, pertimbangkan untuk mengklasifikasikannya sebagai HTM.
  4. 4Pastikan perusahaan memiliki niat yang jelas dan kemampuan finansial untuk memegang aset tersebut hingga jatuh tempo tanpa terpaksa menjualnya.
  5. 5Dokumentasikan niat kepemilikan jangka panjang secara resmi sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.

Contoh Penggunaan Held-to-Maturity (HTM) dalam Trading

Sebuah perusahaan asuransi memiliki portofolio obligasi korporasi senilai Rp 10 miliar yang akan jatuh tempo dalam 5 tahun. Perusahaan ini membutuhkan aliran kas yang stabil untuk memenuhi kewajiban polisnya dan tidak ingin mengambil risiko dari volatilitas pasar obligasi. Oleh karena itu, perusahaan memutuskan untuk mengklasifikasikan obligasi-obligasi ini sebagai Held-to-Maturity (HTM). Dengan klasifikasi ini, obligasi tersebut akan dicatat pada biaya perolehannya, dan perubahan harga pasar tidak akan mempengaruhi nilai buku mereka. Pendapatan bunga yang diterima secara berkala akan diakui sebagai pendapatan, dan pada saat jatuh tempo, perusahaan akan menerima kembali pokok investasi sebesar Rp 10 miliar.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Obligasi, Jatuh Tempo, Fair Value, Available-for-Sale (AFS), Trading Securities, Pendapatan Tetap, Portofolio Investasi

Pertanyaan Umum tentang Held-to-Maturity (HTM)

Apa perbedaan utama antara Held-to-Maturity (HTM) dan Available-for-Sale (AFS)?

Perbedaan utama terletak pada niat kepemilikan dan cara penilaiannya. HTM dipegang hingga jatuh tempo dan dinilai pada biaya perolehan (amortized cost), sedangkan AFS dapat dijual kapan saja sebelum jatuh tempo dan dinilai berdasarkan nilai pasar (fair value), dengan perubahan nilai yang dicatat di ekuitas.

Apakah investor individu bisa menggunakan klasifikasi HTM?

Klasifikasi HTM lebih umum digunakan oleh entitas bisnis dan institusional yang memiliki kebutuhan pelaporan keuangan yang spesifik. Investor individu biasanya memperlakukan investasi obligasi sebagai bagian dari portofolio investasi umum, di mana fokusnya bisa pada pendapatan atau potensi capital gain.

Apa konsekuensi jika perusahaan terpaksa menjual aset HTM sebelum jatuh tempo?

Jika perusahaan menjual aset yang diklasifikasikan sebagai HTM sebelum jatuh tempo (kecuali dalam kondisi tertentu yang diizinkan oleh standar akuntansi), maka seluruh klasifikasi HTM harus dibatalkan. Aset tersebut harus diklasifikasikan ulang, misalnya menjadi AFS atau Trading, dan semua keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi akan diakui dalam laporan keuangan.