4 menit baca 854 kata Diperbarui: 15 Januari 2026
🎯 Poin Penting tentang Last In, First Out (LIFO)
- LIFO adalah metode akuntansi untuk mengukur nilai aset yang dijual atau digunakan.
- Aset yang terakhir dibeli dianggap sebagai yang pertama kali dijual atau digunakan.
- LIFO dapat mengurangi beban pajak dengan melaporkan keuntungan yang lebih rendah saat inflasi.
- Metode ini memiliki kelemahan dalam penilaian persediaan dan efisiensi pengelolaan.
- Penggunaannya bergantung pada preferensi, tujuan, dan kondisi keuangan trader/investor.
📑 Daftar Isi
- Definisi
- Penjelasan Lengkap
- Cara Menggunakan Last In, First Out (LIFO)
- Contoh Penggunaan
- Istilah Terkait
- FAQ
Apa itu Last In, First Out (LIFO)?
Last In, First Out (LIFO) adalah Metode akuntansi LIFO mengasumsikan aset terakhir yang dibeli adalah yang pertama dijual atau digunakan dalam trading/investasi.
Penjelasan Lengkap tentang Last In, First Out (LIFO)
Last In, First Out (LIFO) adalah sebuah metode akuntansi yang diterapkan dalam dunia trading dan investasi, khususnya untuk mengukur nilai pasar dari saham atau aset yang dimiliki oleh seorang trader atau investor. Prinsip dasar dari metode LIFO ini adalah mengasumsikan bahwa aset yang dibeli paling baru (terakhir) akan menjadi aset yang pertama kali dijual atau digunakan. Dengan kata lain, ketika terjadi transaksi penjualan atau penggunaan aset, sistem akan mengidentifikasi dan menghitung nilai berdasarkan aset yang masuk ke dalam portofolio terakhir.
Perbedaan dengan FIFO
Metode LIFO sangat kontras dengan metode First In, First Out (FIFO). Dalam FIFO, aset yang pertama kali dibeli dianggap sebagai yang pertama dijual atau digunakan. Perbedaan ini menjadi krusial dalam menentukan nilai persediaan atau aset yang terjual, terutama ketika harga aset mengalami fluktuasi.
Ilustrasi Sederhana
Bayangkan seorang trader memiliki stok saham yang dibeli pada waktu berbeda dengan harga yang berbeda pula:
- Pembelian 1: 100 lembar saham @ Rp 1.000
- Pembelian 2: 50 lembar saham @ Rp 1.200
- Pembelian 3: 75 lembar saham @ Rp 1.100
Jika trader tersebut menjual 100 lembar saham:
- Menggunakan LIFO: 75 lembar saham dari Pembelian 3 (terakhir) @ Rp 1.100 dan 25 lembar dari Pembelian 2 @ Rp 1.200 akan dihitung sebagai yang terjual.
- Menggunakan FIFO: 100 lembar saham dari Pembelian 1 (pertama) @ Rp 1.000 akan dihitung sebagai yang terjual.
Alasan Penggunaan LIFO
Seorang trader atau investor mungkin memilih metode LIFO karena beberapa alasan strategis:
- Manajemen Pajak: Dalam situasi inflasi atau kenaikan harga aset, LIFO dapat menghasilkan laba kotor yang lebih rendah dalam laporan keuangan. Laba yang lebih rendah berarti kewajiban pajak yang lebih kecil, sehingga menguntungkan dari sisi efisiensi pajak.
- Kondisi Inflasi: LIFO sangat relevan ketika terjadi inflasi atau ketika harga aset secara umum cenderung meningkat seiring waktu. Dengan menganggap biaya aset terbaru sebagai biaya yang dikeluarkan, laba yang dilaporkan akan lebih mencerminkan kondisi ekonomi saat ini.
Kelemahan LIFO
Meskipun menawarkan keuntungan, metode LIFO juga memiliki beberapa kelemahan yang perlu dipertimbangkan:
- Penilaian Persediaan: LIFO dapat menghasilkan nilai persediaan (aset yang masih tersisa) yang lebih tinggi di laporan keuangan. Dalam periode inflasi, ini bisa memberikan gambaran yang kurang akurat mengenai nilai aset yang sebenarnya jika dibandingkan dengan metode FIFO.
- Efisiensi Pengelolaan: Melacak dan mengelola persediaan secara efisien bisa menjadi lebih kompleks dengan metode LIFO, karena urutan pembelian yang terakhir harus selalu diprioritaskan dalam perhitungan.
Secara keseluruhan, keputusan untuk menggunakan metode LIFO dalam trading atau investasi sangat bergantung pada analisis mendalam terhadap tujuan finansial, kondisi pasar, dan preferensi individu trader atau investor.
Cara Menggunakan Last In, First Out (LIFO)
Metode LIFO digunakan untuk menghitung biaya pokok penjualan (HPP) atau nilai aset yang terjual/digunakan, yang berdampak pada laba bersih dan kewajiban pajak.
- 1Identifikasi semua unit aset yang dibeli beserta tanggal dan harganya.
- 2Saat terjadi penjualan atau penggunaan aset, urutkan unit aset berdasarkan tanggal pembelian dari yang terbaru ke yang terlama.
- 3Ambil unit aset dari urutan terbaru hingga jumlah yang terjual/digunakan terpenuhi untuk menghitung biaya pokok penjualan (HPP) atau nilai aset yang keluar.
- 4Sisa unit aset yang tidak terhitung dalam penjualan adalah nilai persediaan akhir.
Contoh Penggunaan Last In, First Out (LIFO) dalam Trading
Seorang trader saham membeli 100 lembar saham ABC pada tanggal 1 Januari seharga Rp 1.000/lembar, dan 50 lembar lagi pada tanggal 15 Januari seharga Rp 1.200/lembar. Jika pada tanggal 20 Januari trader tersebut menjual 70 lembar saham, dengan metode LIFO, ia akan menganggap 50 lembar dari pembelian tanggal 15 Januari (Rp 1.200) dan 20 lembar dari pembelian tanggal 1 Januari (Rp 1.000) sebagai yang terjual. Maka, total biaya pokok penjualan adalah (50 x Rp 1.200) + (20 x Rp 1.000) = Rp 60.000 + Rp 20.000 = Rp 80.000.
Istilah Terkait
Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: FIFO, Biaya Pokok Penjualan (HPP), Manajemen Persediaan, Inflasi, Laba Kotor, Pajak Penghasilan
Pertanyaan Umum tentang Last In, First Out (LIFO)
Apa perbedaan utama antara LIFO dan FIFO?
Perbedaan utama terletak pada asumsi urutan penjualan aset: LIFO mengasumsikan aset terakhir dibeli adalah yang pertama dijual, sedangkan FIFO mengasumsikan aset pertama dibeli adalah yang pertama dijual.
Kapan metode LIFO paling menguntungkan digunakan?
LIFO paling menguntungkan digunakan saat terjadi inflasi atau kenaikan harga aset, karena dapat mengurangi laba kena pajak.
Apakah LIFO diperbolehkan di semua negara?
Penggunaan LIFO diatur oleh standar akuntansi yang berlaku. Di beberapa negara, seperti Amerika Serikat (melalui GAAP), LIFO masih diperbolehkan, namun di negara lain yang mengadopsi IFRS (International Financial Reporting Standards), LIFO tidak diizinkan.