4 menit baca 810 kata Diperbarui: 15 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang Leaseback

  • Leaseback memungkinkan pemilik aset mendapatkan likuiditas tunai segera.
  • Pemilik aset tetap dapat menggunakan aset tersebut setelah transaksi.
  • Transaksi ini sering digunakan sebagai alternatif pendanaan bisnis.
  • Perjanjian sewa biasanya bersifat jangka panjang dengan kewajiban pemeliharaan.
  • Penting untuk menganalisis risiko dan keuntungan sebelum melakukan leaseback.

📑 Daftar Isi

Apa itu Leaseback?

Leaseback adalah Leaseback adalah transaksi di mana pemilik aset menjualnya dan sekaligus menyewa kembali, untuk mendapatkan modal tunai sambil tetap menggunakannya.

Penjelasan Lengkap tentang Leaseback

Apa Itu Leaseback?

Dalam dunia trading dan investasi, Leaseback merujuk pada sebuah skema transaksi yang unik. Konsep dasarnya adalah pemilik sebuah aset, yang paling umum adalah properti seperti gedung perkantoran, pabrik, gudang, atau lahan, menjual aset tersebut kepada pihak lain (investor atau institusi keuangan). Namun, yang membedakan leaseback adalah pada saat yang bersamaan, pemilik asli aset tersebut akan menyewa kembali aset yang baru saja dijualnya. Dengan kata lain, kepemilikan berpindah tangan, namun penggunaan aset tetap berada di tangan penjual awal melalui perjanjian sewa.

Bagaimana Leaseback Bekerja?

Transaksi leaseback dirancang untuk memberikan manfaat ganda bagi penjual. Pertama, mereka mendapatkan suntikan modal tunai yang signifikan dari hasil penjualan aset. Modal ini dapat dialokasikan untuk berbagai keperluan, mulai dari ekspansi bisnis, restrukturisasi utang, investasi baru, hingga mengatasi kebutuhan likuiditas mendesak. Kedua, penjual tetap dapat melanjutkan operasional bisnisnya atau menggunakan aset tersebut tanpa gangguan berarti, karena mereka kembali menyewanya dari pembeli baru.

Perjanjian sewa dalam leaseback umumnya memiliki durasi yang cukup panjang, bisa mencapai belasan hingga puluhan tahun, tergantung kesepakatan kedua belah pihak. Selama periode sewa tersebut, tanggung jawab terkait pemeliharaan, perawatan, dan operasional aset biasanya akan beralih kepada penyewa baru (pembeli aset), meskipun hal ini dapat dinegosiasikan.

Keuntungan Transaksi Leaseback

  • Akses Modal Tunai: Membebaskan modal yang terikat pada aset tetap menjadi likuiditas yang dapat digunakan untuk pertumbuhan bisnis atau kebutuhan finansial lainnya.
  • Fleksibilitas Finansial: Menawarkan alternatif pendanaan yang lebih fleksibel dibandingkan pinjaman bank konvensional, terutama bagi perusahaan yang membutuhkan dana cepat.
  • Pengurangan Beban Pemeliharaan: Tanggung jawab pemeliharaan dan perawatan aset berpindah ke pembeli, mengurangi biaya operasional bagi penyewa baru.
  • Potensi Keuntungan Jangka Panjang: Jika nilai aset meningkat di masa depan, penjual yang menyewa kembali aset tersebut tetap berpotensi mendapatkan keuntungan dari kenaikan nilai tersebut (meskipun tidak memiliki aset secara langsung).
  • Fokus pada Bisnis Inti: Memungkinkan manajemen untuk lebih fokus pada operasional dan strategi bisnis inti daripada mengelola aset properti.

Risiko yang Perlu Dipertimbangkan

  • Kenaikan Biaya Sewa: Ada kemungkinan biaya sewa mengalami kenaikan di masa mendatang, terutama jika ada klausul penyesuaian sewa dalam kontrak.
  • Ketergantungan pada Pembeli: Penjual bergantung pada pembeli untuk menjaga kondisi aset tetap baik selama masa sewa.
  • Hilangnya Kendali Penuh: Selama masa sewa, penjual tidak memiliki kendali penuh atas aset dan mungkin tidak dapat melakukan perubahan besar tanpa persetujuan pembeli.
  • Potensi Kehilangan Aset: Jika kesepakatan sewa tidak diperbaharui atau terjadi wanprestasi, penjual dapat kehilangan hak untuk menggunakan aset tersebut.

Oleh karena itu, analisis mendalam terhadap kondisi pasar, nilai aset, kewajiban sewa, serta tujuan bisnis jangka panjang sangat krusial sebelum memutuskan untuk melakukan transaksi leaseback.

Cara Menggunakan Leaseback

Leaseback digunakan oleh pemilik aset yang membutuhkan likuiditas tunai namun tetap ingin menggunakan aset tersebut untuk operasional bisnis atau investasi.

  1. 1Identifikasi aset yang berpotensi dijadikan objek leaseback (misalnya properti).
  2. 2Cari calon pembeli/investor yang bersedia membeli aset tersebut dan sekaligus menyewakannya kembali.
  3. 3Negosiasikan harga jual aset dan syarat-syarat perjanjian sewa (durasi, biaya sewa, tanggung jawab pemeliharaan).
  4. 4Lakukan analisis risiko dan keuntungan secara menyeluruh sebelum menandatangani kontrak.
  5. 5Setelah transaksi selesai, pemilik aset menjadi penyewa dan terus menggunakan aset tersebut sesuai perjanjian.

Contoh Penggunaan Leaseback dalam Trading

Sebuah perusahaan manufaktur memiliki pabrik sendiri yang nilainya tinggi namun membutuhkan dana segar untuk membeli mesin baru yang lebih canggih. Perusahaan tersebut melakukan transaksi leaseback. Mereka menjual pabriknya kepada sebuah perusahaan investasi. Setelah penjualan, perusahaan manufaktur tersebut langsung menyewa kembali pabrik tersebut dari perusahaan investasi tersebut dengan perjanjian sewa jangka panjang. Dana hasil penjualan pabrik kemudian digunakan untuk membeli mesin baru, sementara operasional produksi tetap berjalan di pabrik yang sama.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: aset, properti, modal, likuiditas, pendanaan, sewa, investasi, trading

Pertanyaan Umum tentang Leaseback

Apakah leaseback hanya berlaku untuk properti?

Umumnya leaseback paling sering diterapkan pada aset properti seperti gedung dan tanah, namun secara teori bisa juga diterapkan pada aset besar lainnya seperti armada kendaraan atau peralatan industri yang bernilai tinggi.

Siapa yang biasanya menjadi pembeli dalam transaksi leaseback?

Pembeli dalam transaksi leaseback biasanya adalah institusi keuangan, perusahaan investasi, dana pensiun, atau investor swasta yang mencari investasi jangka panjang dengan arus kas yang stabil dari pendapatan sewa.

Apa perbedaan utama antara leaseback dan hipotek?

Dalam hipotek, pemilik aset tetap memiliki aset tersebut dan hanya menjaminkannya untuk mendapatkan pinjaman. Dalam leaseback, kepemilikan aset berpindah tangan kepada pembeli, dan pemilik lama mendapatkan dana dari penjualan tersebut sambil tetap menggunakannya melalui sewa.