5 menit baca 1077 kata Diperbarui: 15 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang Liquidity Preference Theory

  • Teori ini dikemukakan oleh John Maynard Keynes, menyoroti preferensi investor terhadap likuiditas.
  • Investor memilih likuiditas karena fleksibilitas dan kepastian, meskipun investasi menawarkan potensi keuntungan lebih tinggi.
  • Preferensi likuiditas memengaruhi keputusan investasi, pergerakan pasar, dan tingkat suku bunga.
  • Suku bunga cenderung naik ketika permintaan uang tunai meningkat karena investor memilih likuiditas.
  • Memahami teori ini membantu trader membuat keputusan investasi yang lebih baik dan memanfaatkan pasar.

📑 Daftar Isi

Apa itu Liquidity Preference Theory?

Liquidity Preference Theory adalah Teori Preferensi Likuiditas oleh Keynes menjelaskan bahwa investor lebih memilih memegang uang tunai (likuiditas) daripada investasi berisiko, yang memengaruhi suku bunga dan pergerakan pasar.

Penjelasan Lengkap tentang Liquidity Preference Theory

Teori Preferensi Likuiditas (Liquidity Preference Theory)

Teori Preferensi Likuiditas, sebuah konsep fundamental dalam makroekonomi yang diperkenalkan oleh ekonom terkemuka John Maynard Keynes dalam karyanya yang monumental, The General Theory of Employment, Interest, and Money (1936), mengulas secara mendalam hubungan dinamis antara likuiditas uang dan tingkat suku bunga.

Inti dari teori ini adalah observasi bahwa para investor dan pelaku ekonomi secara umum memiliki kecenderungan inheren untuk lebih mengutamakan likuiditas – yaitu kemudahan dan kecepatan mengubah aset menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai signifikan – dibandingkan dengan potensi keuntungan dari berbagai instrumen investasi. Alasan utama di balik preferensi ini adalah:

  • Fleksibilitas Transaksi: Likuiditas uang memberikan keleluasaan penuh untuk melakukan berbagai transaksi keuangan kapan saja dibutuhkan, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga peluang investasi mendadak.
  • Kepastian dan Keamanan: Memegang uang tunai atau aset yang sangat likuid memberikan rasa aman dan kepastian, karena nilainya cenderung stabil dalam jangka pendek, berbeda dengan investasi yang selalu menyimpan unsur risiko ketidakpastian nilai.
  • Menghindari Risiko Investasi: Instrumen investasi, meskipun berpotensi memberikan imbal hasil yang lebih tinggi, seringkali datang dengan tingkat risiko yang lebih besar, baik itu risiko pasar, risiko kredit, maupun risiko likuiditas itu sendiri.

Implikasi dalam Trading dan Investasi

Dalam dunia trading dan investasi, Teori Preferensi Likuiditas memiliki arti yang sangat penting. Teori ini menjelaskan mengapa investor terkadang lebih memilih untuk menyimpan aset mereka dalam bentuk tunai atau instrumen yang sangat mudah dicairkan (seperti rekening tabungan, deposito jangka pendek, atau bahkan mata uang asing yang likuid) daripada mengalokasikannya ke dalam aset yang kurang likuid, seperti properti, saham perusahaan kecil, atau obligasi jangka panjang yang mungkin sulit dijual cepat tanpa diskon.

Pergerakan suku bunga memainkan peran krusial dalam teori ini:

  • Tingkat Suku Bunga Rendah: Ketika suku bunga acuan berada pada level yang rendah, biaya peluang dari memegang uang tunai menjadi lebih kecil. Investor mungkin merasa lebih nyaman untuk mengalihkan sebagian aset mereka ke instrumen yang sedikit lebih berisiko namun menawarkan imbal hasil yang lebih menarik, atau tetap memegang likuiditas karena potensi keuntungan investasi tidak sepadan dengan risikonya. Dalam konteks ini, pasar mungkin melihat peningkatan minat pada aset yang lebih likuid seperti mata uang atau surat berharga negara jangka pendek.
  • Tingkat Suku Bunga Tinggi: Sebaliknya, ketika suku bunga naik, menyimpan uang dalam instrumen likuid yang menawarkan imbal hasil kompetitif (seperti deposito berjangka atau obligasi pemerintah yang lebih aman) menjadi lebih menarik. Biaya peluang dari memegang uang tunai tanpa bunga menjadi lebih tinggi, sehingga mendorong investor untuk mencari tempat parkir dana yang memberikan imbal hasil lebih baik.

Hubungan dengan Permintaan Uang dan Suku Bunga

Teori Preferensi Likuiditas juga secara eksplisit menyatakan bahwa tingkat suku bunga akan cenderung meningkat ketika permintaan akan uang tunai (likuiditas) mengalami peningkatan. Jika mayoritas investor dan pelaku ekonomi lebih memilih untuk menyimpan kekayaan mereka dalam bentuk uang tunai daripada menginvestasikannya, ini berarti ada permintaan agregat yang tinggi untuk uang. Dalam pasar keuangan, tingginya permintaan terhadap suatu 'komoditas' (dalam hal ini, uang) ketika pasokannya relatif tetap atau tidak dapat ditingkatkan dengan cepat, akan mendorong 'harganya' naik. Dalam konteks uang, 'harga' ini adalah suku bunga. Suku bunga yang lebih tinggi kemudian bertindak sebagai kompensasi bagi investor untuk melepaskan likuiditas mereka dan menginvestasikannya pada aset lain.

Secara keseluruhan, pemahaman mendalam mengenai Teori Preferensi Likuiditas sangat vital bagi para trader dan investor. Teori ini memberikan kerangka kerja untuk menganalisis bagaimana sentimen investor terhadap likuiditas, yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro seperti tingkat suku bunga, dapat memicu pergerakan pasar. Dengan mengintegrasikan pemahaman ini ke dalam strategi trading, pelaku pasar dapat membuat keputusan investasi yang lebih cerdas, mengelola risiko dengan lebih baik, dan mengidentifikasi peluang untuk memanfaatkan fluktuasi pasar secara lebih efektif.

Cara Menggunakan Liquidity Preference Theory

Trader dapat menggunakan Teori Preferensi Likuiditas untuk memahami sentimen pasar, memprediksi pergerakan suku bunga, dan mengelola portofolio investasi mereka.

  1. 1Langkah 1: Pantau pengumuman dan ekspektasi mengenai kebijakan moneter bank sentral terkait suku bunga.
  2. 2Langkah 2: Amati data ekonomi makro yang mengindikasikan tren permintaan uang tunai (misalnya, inflasi, pertumbuhan ekonomi).
  3. 3Langkah 3: Analisis bagaimana perubahan suku bunga berpotensi memengaruhi keputusan investor untuk beralih antara aset likuid dan investasi berisiko.
  4. 4Langkah 4: Gunakan pemahaman ini untuk menyesuaikan alokasi aset dalam portofolio, misalnya dengan meningkatkan kepemilikan aset likuid saat suku bunga diperkirakan turun atau sebaliknya.

Contoh Penggunaan Liquidity Preference Theory dalam Trading

Misalkan bank sentral mengisyaratkan akan menaikkan suku bunga acuan dalam beberapa bulan ke depan. Berdasarkan Teori Preferensi Likuiditas, kita dapat mengantisipasi bahwa investor akan mulai mengurangi eksposur mereka pada aset yang kurang likuid dan berisiko tinggi, lalu memindahkan dana mereka ke instrumen yang lebih likuid dan memberikan imbal hasil yang lebih baik seiring kenaikan suku bunga, seperti obligasi pemerintah jangka pendek atau deposito. Bagi seorang trader forex, ini bisa berarti mengantisipasi penguatan mata uang negara yang ekonominya cenderung mendapat manfaat dari kenaikan suku bunga tersebut, atau sebaliknya, melemahnya mata uang yang sangat bergantung pada aliran modal asing yang mencari imbal hasil tinggi.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Likuiditas, Suku Bunga, Permintaan Uang, John Maynard Keynes, Kebijakan Moneter, Investasi, Trading Forex

Pertanyaan Umum tentang Liquidity Preference Theory

Apa perbedaan utama antara likuiditas dan investasi menurut teori ini?

Likuiditas adalah kemudahan mengubah aset menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai, memberikan fleksibilitas dan kepastian. Investasi berpotensi memberikan keuntungan lebih tinggi tetapi memiliki risiko lebih besar dan mungkin kurang likuid.

Bagaimana Teori Preferensi Likuiditas memengaruhi suku bunga?

Ketika permintaan akan uang tunai (likuiditas) meningkat, investor cenderung menyimpan lebih banyak uang daripada menginvestasikannya. Tingginya permintaan uang ini akan mendorong suku bunga naik sebagai kompensasi bagi investor yang bersedia melepaskan likuiditasnya.

Apakah teori ini masih relevan di pasar keuangan modern?

Ya, Teori Preferensi Likuiditas tetap sangat relevan karena menjelaskan perilaku dasar investor dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dan perubahan suku bunga, yang terus memengaruhi keputusan investasi dan pergerakan pasar global.