5 menit baca 1076 kata Diperbarui: 15 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang Long-Term Capital Gain or Loss

  • Long-Term Capital Gain/Loss berlaku untuk aset yang dimiliki lebih dari satu tahun fiskal.
  • Keuntungan jangka panjang (long-term capital gain) umumnya dikenakan tarif pajak lebih rendah.
  • Kerugian jangka panjang (long-term capital loss) dapat digunakan untuk mengimbangi keuntungan lainnya.
  • Pencatatan transaksi yang akurat sangat penting untuk perhitungan dan pelaporan pajak.
  • Memahami perbedaan antara jangka panjang dan pendek krusial untuk strategi investasi dan pajak.

📑 Daftar Isi

Apa itu Long-Term Capital Gain or Loss?

Long-Term Capital Gain or Loss adalah Keuntungan atau kerugian dari penjualan aset yang dimiliki lebih dari satu tahun, dikenakan tarif pajak lebih rendah dibanding jangka pendek.

Penjelasan Lengkap tentang Long-Term Capital Gain or Loss

Long-Term Capital Gain or Loss merupakan konsep fundamental dalam dunia trading dan investasi, khususnya terkait implikasi perpajakan. Istilah ini merujuk pada keuntungan atau kerugian yang timbul dari penjualan aset, baik itu berupa saham, mata uang kripto (cryptocurrency), properti, atau aset keuangan lainnya, yang telah dimiliki dalam periode waktu yang signifikan.

Definisi Jangka Panjang

Kunci utama untuk mengklasifikasikan sebuah transaksi sebagai long-term adalah durasi kepemilikan aset tersebut. Dalam konteks perpajakan di banyak negara, termasuk Indonesia (meskipun terminologi spesifik bisa bervariasi), periode kepemilikan yang dianggap 'jangka panjang' umumnya adalah satu tahun fiskal atau lebih. Artinya, jika Anda menjual sebuah aset setelah memegangnya selama lebih dari 12 bulan, maka keuntungan atau kerugian yang Anda alami akan dikategorikan sebagai long-term.

Long-Term Capital Gain

Ketika Anda menjual aset yang telah Anda miliki lebih dari satu tahun dan mendapatkan keuntungan, keuntungan tersebut disebut Long-Term Capital Gain. Salah satu keuntungan signifikan dari long-term capital gain adalah tarif pajaknya yang cenderung lebih rendah dibandingkan dengan short-term capital gain (keuntungan dari aset yang dijual kurang dari satu tahun). Perbedaan tarif pajak ini dapat memberikan insentif bagi investor untuk menahan aset mereka dalam jangka waktu yang lebih lama, yang pada gilirannya dapat mendukung stabilitas pasar.

Long-Term Capital Loss

Sebaliknya, jika Anda menjual aset yang telah Anda miliki lebih dari satu tahun dengan mengalami kerugian, kerugian tersebut dikategorikan sebagai Long-Term Capital Loss. Kerugian ini memiliki manfaat pajak yang penting. Long-term capital loss dapat digunakan untuk mengimbangi (offset) long-term capital gain lainnya yang Anda miliki. Dalam beberapa yurisdiksi, bahkan kerugian jangka panjang ini juga dapat digunakan untuk mengurangi short-term capital gain, atau bahkan pendapatan kena pajak lainnya, sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku.

Pentingnya Pencatatan dan Pemahaman

Memahami perbedaan antara long-term dan short-term capital gain/loss sangat krusial bagi setiap trader atau investor. Perbedaan ini tidak hanya memengaruhi kewajiban pajak Anda tetapi juga dapat membentuk strategi investasi Anda. Investor yang berfokus pada keuntungan jangka panjang seringkali memanfaatkan tarif pajak yang lebih menguntungkan ini. Untuk dapat menghitung dan melaporkan long-term capital gain/loss secara akurat, sangat penting untuk menyimpan catatan yang lengkap dan terperinci mengenai semua transaksi trading atau investasi Anda. Catatan ini harus mencakup tanggal pembelian, tanggal penjualan, harga beli, dan harga jual aset.

Contohnya:

  • Jika Anda membeli saham X pada Januari 2020 dan menjualnya pada Maret 2021 (memiliki selama 14 bulan), keuntungan dari penjualan tersebut adalah long-term capital gain.
  • Jika Anda membeli Bitcoin pada Februari 2019 dan menjualnya pada April 2021 (memiliki selama 2 tahun lebih), keuntungan yang Anda peroleh akan dikenakan pajak sebagai long-term capital gain.
  • Jika Anda membeli obligasi Y pada Juni 2018 dan menjualnya dengan rugi pada Agustus 2021 (memiliki selama 3 tahun lebih), kerugian tersebut adalah long-term capital loss.

Cara Menggunakan Long-Term Capital Gain or Loss

Trader dan investor menggunakan pemahaman Long-Term Capital Gain/Loss untuk perencanaan pajak dan strategi investasi jangka panjang.

  1. 1Langkah 1: Identifikasi aset yang Anda miliki dan catat tanggal pembeliannya.
  2. 2Langkah 2: Tentukan tanggal penjualan aset tersebut.
  3. 3Langkah 3: Hitung durasi kepemilikan aset (dalam tahun fiskal). Jika lebih dari satu tahun, maka keuntungan/kerugian bersifat jangka panjang.
  4. 4Langkah 4: Hitung keuntungan (harga jual - harga beli) atau kerugian (harga beli - harga jual).
  5. 5Langkah 5: Gunakan informasi ini untuk perhitungan kewajiban pajak Anda dan pertimbangkan implikasinya terhadap strategi investasi Anda.

Contoh Penggunaan Long-Term Capital Gain or Loss dalam Trading

Seorang trader bernama Budi membeli 100 unit saham ABC pada tanggal 15 Januari 2020 seharga Rp 1.000 per saham. Ia kemudian menjual seluruh saham tersebut pada tanggal 20 Februari 2021 seharga Rp 1.500 per saham. Periode kepemilikan saham Budi adalah 1 tahun, 1 bulan, dan 5 hari, yang berarti lebih dari satu tahun fiskal.

Perhitungan:

  • Total Harga Beli: 100 unit * Rp 1.000 = Rp 100.000
  • Total Harga Jual: 100 unit * Rp 1.500 = Rp 150.000
  • Keuntungan: Rp 150.000 - Rp 100.000 = Rp 50.000

Karena Budi memegang saham tersebut lebih dari satu tahun, keuntungan sebesar Rp 50.000 ini dikategorikan sebagai Long-Term Capital Gain. Budi akan menghitung kewajiban pajaknya berdasarkan tarif pajak untuk long-term capital gain, yang umumnya lebih rendah daripada tarif pajak untuk short-term capital gain.

Jika Budi mengalami kerugian, misalnya menjual saham tersebut seharga Rp 800 per saham, maka kerugian sebesar Rp 20.000 akan menjadi Long-Term Capital Loss yang dapat digunakan untuk mengimbangi keuntungan modal lainnya.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Capital Gain, Capital Loss, Short-Term Capital Gain, Short-Term Capital Loss, Tahun Fiskal, Pajak Investasi, Trader Jangka Panjang, Investor Jangka Panjang

Pertanyaan Umum tentang Long-Term Capital Gain or Loss

Berapa lama durasi kepemilikan aset agar dianggap 'jangka panjang'?

Secara umum, durasi kepemilikan aset selama satu tahun fiskal atau lebih dianggap sebagai 'jangka panjang'. Namun, definisi spesifik bisa bervariasi tergantung pada peraturan perpajakan di masing-masing negara.

Apakah semua jenis aset memiliki perlakuan pajak yang sama untuk Long-Term Capital Gain/Loss?

Perlakuan pajak bisa berbeda untuk jenis aset yang berbeda. Umumnya, aset seperti saham, obligasi, dan properti memiliki aturan yang jelas. Aset digital seperti cryptocurrency mungkin memiliki aturan yang terus berkembang.

Bagaimana jika saya memiliki beberapa transaksi saham yang dibeli pada waktu berbeda?

Anda perlu melacak setiap pembelian secara individual. Jika Anda menjual sebagian saham yang dibeli lebih dari setahun lalu, maka keuntungan/kerugian tersebut adalah jangka panjang. Jika Anda menjual saham yang dibeli kurang dari setahun lalu, itu adalah jangka pendek. Pencatatan yang cermat sangat penting.

Apakah Long-Term Capital Loss bisa mengurangi penghasilan gaji saya?

Kemampuan <em>long-term capital loss</em> untuk mengimbangi jenis pendapatan lain (seperti gaji) sangat bervariasi tergantung pada undang-undang perpajakan di negara Anda. Di banyak negara, kerugian modal biasanya hanya dapat mengimbangi keuntungan modal, meskipun ada batasan jumlah yang dapat dikurangkan per tahun.