5 menit baca 1052 kata Diperbarui: 16 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang What Is an Earnings Multiplier? How It Works and Example

  • Earnings Multiplier, atau Price-to-Earnings Ratio (PER), adalah metrik valuasi saham yang krusial.
  • Rasio ini mengukur berapa banyak investor bersedia membayar untuk setiap unit laba yang dihasilkan perusahaan.
  • PER dihitung dengan membagi harga saham per lembar dengan laba bersih per lembar saham (EPS).
  • PER membantu investor menilai apakah suatu saham dinilai wajar, terlalu mahal, atau terlalu murah dibandingkan peers.
  • Meskipun berguna, PER memiliki keterbatasan dan sebaiknya digunakan bersama indikator lain.

📑 Daftar Isi

Apa itu What Is an Earnings Multiplier? How It Works and Example?

What Is an Earnings Multiplier? How It Works and Example adalah Earnings Multiplier (PER) adalah rasio valuasi yang membandingkan harga saham perusahaan dengan laba per sahamnya, menunjukkan berapa investor bersedia bayar per dolar laba.

Penjelasan Lengkap tentang What Is an Earnings Multiplier? How It Works and Example

Apa Itu Earnings Multiplier (Price-to-Earnings Ratio - PER)?

Earnings Multiplier, yang lebih umum dikenal sebagai Price-to-Earnings Ratio (PER) atau Rasio Harga terhadap Pendapatan, adalah salah satu indikator valuasi saham yang paling fundamental dan banyak digunakan oleh para trader dan investor. Metrik ini memberikan gambaran mengenai seberapa besar investor bersedia membayar untuk setiap dolar laba yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan. Dengan kata lain, PER mencerminkan ekspektasi pasar terhadap potensi pertumbuhan laba perusahaan di masa depan.

Bagaimana Earnings Multiplier Bekerja?

Cara kerja dari earnings multiplier sangatlah sederhana. Rasio ini dihitung dengan membandingkan harga pasar terkini dari satu lembar saham perusahaan dengan laba bersih per lembar saham (Earnings Per Share - EPS) perusahaan tersebut dalam periode waktu tertentu (biasanya 12 bulan terakhir).

Rumus perhitungannya adalah:

PER = Harga Saham per Lembar / Laba Bersih per Lembar Saham (EPS)

Sebagai ilustrasi, jika sebuah perusahaan bernama PT Maju Terus memiliki harga saham Rp 5.000 per lembar, dan laba bersih per lembar sahamnya (EPS) adalah Rp 500, maka PER perusahaan tersebut adalah:

PER = Rp 5.000 / Rp 500 = 10x

Ini berarti, investor bersedia membayar Rp 10 untuk setiap Rp 1 laba bersih yang dihasilkan oleh PT Maju Terus. Angka 10x ini menunjukkan kelipatan (multiplier) dari laba yang dibayarkan oleh investor.

Manfaat dan Penggunaan Earnings Multiplier

Earnings multiplier dapat menjadi alat yang sangat berguna bagi investor dalam melakukan analisis dan evaluasi terhadap suatu saham:

  • Penilaian Kewajaran Harga: PER membantu investor untuk mengevaluasi apakah suatu saham dihargai secara wajar di pasar. Dengan membandingkan PER suatu perusahaan dengan PER perusahaan sejenis dalam industri yang sama atau dengan PER historis perusahaan itu sendiri, investor dapat mengidentifikasi potensi undervalued (terlalu murah) atau overvalued (terlalu mahal) saham.
  • Perbandingan Antar Perusahaan: Rasio ini memungkinkan perbandingan yang lebih mudah antara perusahaan-perusahaan dalam sektor yang sama, terlepas dari perbedaan harga saham absolut mereka.
  • Indikator Ekspektasi Pasar: PER yang tinggi seringkali mengindikasikan bahwa pasar memiliki ekspektasi pertumbuhan laba yang tinggi untuk perusahaan tersebut di masa depan. Sebaliknya, PER yang rendah bisa jadi menunjukkan ekspektasi pertumbuhan yang lebih lambat atau adanya risiko yang dipersepsikan pasar.

Keterbatasan Earnings Multiplier

Meskipun sangat populer, earnings multiplier bukanlah indikator yang sempurna dan memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan oleh para trader dan investor:

  • Tidak Memperhitungkan Pertumbuhan: PER statis tidak secara langsung memperhitungkan laju pertumbuhan laba di masa depan. Saham dengan PER tinggi mungkin saja memiliki pertumbuhan yang pesat, sementara saham dengan PER rendah bisa jadi stagnan.
  • Sensitif terhadap Laba Akuntansi: Perhitungan PER bergantung pada laba bersih per saham (EPS) yang dilaporkan. Laba ini dapat dipengaruhi oleh kebijakan akuntansi perusahaan, yang terkadang dapat dimanipulasi atau tidak mencerminkan arus kas riil perusahaan.
  • Tidak Mempertimbangkan Risiko dan Utang: Rasio ini tidak secara eksplisit mempertimbangkan tingkat risiko investasi suatu perusahaan atau struktur permodalan (tingkat utang) yang dimilikinya. Perusahaan dengan utang tinggi mungkin memiliki PER yang tampak menarik, namun memiliki risiko finansial yang lebih besar.
  • Perbandingan Industri yang Berbeda: Membandingkan PER antar industri yang sangat berbeda bisa menyesatkan karena setiap industri memiliki karakteristik pertumbuhan, risiko, dan siklus bisnis yang unik.

Oleh karena itu, PER sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan investasi. Analisis lebih mendalam yang mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti prospek pertumbuhan, kesehatan neraca, manajemen, dan kondisi makroekonomi sangatlah penting.

Cara Menggunakan What Is an Earnings Multiplier? How It Works and Example

Gunakan Earnings Multiplier untuk membandingkan valuasi saham dan mengidentifikasi potensi undervalued atau overvalued.

  1. 1Langkah 1: Cari data harga saham terkini dan Laba Bersih per Lembar Saham (EPS) perusahaan yang ingin Anda analisis.
  2. 2Langkah 2: Hitung PER dengan membagi harga saham dengan EPS.
  3. 3Langkah 3: Bandingkan PER perusahaan tersebut dengan PER rata-rata industri atau PER perusahaan pesaing.
  4. 4Langkah 4: Evaluasi apakah PER yang dihasilkan menunjukkan saham tersebut dinilai terlalu mahal, terlalu murah, atau wajar, lalu pertimbangkan faktor fundamental lainnya.

Contoh Penggunaan What Is an Earnings Multiplier? How It Works and Example dalam Trading

Misalkan Anda sedang mempertimbangkan investasi pada saham PT Teknologi Cemerlang (TCL) dan PT Inovasi Digital (IND).

PT Teknologi Cemerlang (TCL):
Harga Saham: Rp 10.000
EPS: Rp 1.000
PER TCL = Rp 10.000 / Rp 1.000 = 10x

PT Inovasi Digital (IND):
Harga Saham: Rp 20.000
EPS: Rp 1.500
PER IND = Rp 20.000 / Rp 1.500 = 13.33x

Jika rata-rata PER di sektor teknologi adalah 12x, maka saham TCL (PER 10x) terlihat relatif lebih murah dibandingkan IND (PER 13.33x), yang mungkin memberikan peluang beli jika fundamentalnya kuat. Sebaliknya, jika IND memiliki prospek pertumbuhan yang jauh lebih baik, PER yang lebih tinggi bisa dibenarkan.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Price-to-Earnings Ratio (PER), Laba Bersih per Lembar Saham (EPS), Valuasi Saham, Fundamental Analysis, Undervalued Stock, Overvalued Stock, Analisis Industri

Pertanyaan Umum tentang What Is an Earnings Multiplier? How It Works and Example

Apakah PER yang lebih tinggi selalu berarti saham itu bagus?

Tidak selalu. PER yang lebih tinggi bisa mengindikasikan ekspektasi pertumbuhan yang tinggi, namun juga bisa berarti saham tersebut terlalu mahal (overvalued). Penting untuk melihat konteks industri dan prospek pertumbuhan perusahaan.

Bagaimana cara mengetahui PER rata-rata industri?

Anda bisa mencarinya melalui platform data keuangan, laporan riset analis, atau situs berita keuangan yang menyediakan data perbandingan sektor.

Kapan sebaiknya saya tidak menggunakan PER?

PER kurang relevan untuk perusahaan yang sedang merugi (EPS negatif) atau perusahaan dalam tahap awal pertumbuhan yang labanya belum stabil. Dalam kasus seperti ini, metrik valuasi lain mungkin lebih cocok.