4 menit baca 816 kata Diperbarui: 14 Januari 2026
🎯 Poin Penting tentang Absorption Costing
- Absorption costing memasukkan semua biaya produksi, termasuk overhead pabrik, ke dalam biaya per unit produk.
- Metode ini mengasumsikan bahwa semua biaya produksi harus ditanggung oleh setiap unit yang diproduksi.
- Biaya produksi mengikuti produk dan menjadi bagian dari nilai persediaan.
- Dapat memberikan gambaran biaya produksi yang lebih akurat, namun berpotensi menyesatkan estimasi laba jika terjadi perubahan produksi atau overhead.
- Umum digunakan untuk pelaporan keuangan eksternal sesuai standar akuntansi.
📑 Daftar Isi
Apa itu Absorption Costing?
Absorption Costing adalah Metode akuntansi yang memasukkan semua biaya produksi (langsung & tidak langsung) ke dalam biaya produk per unit.
Penjelasan Lengkap tentang Absorption Costing
Absorption Costing, juga dikenal sebagai full costing, adalah sebuah metode akuntansi biaya yang krusial dalam dunia manufaktur dan investasi. Metode ini mengharuskan semua biaya yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan proses produksi suatu barang atau jasa untuk dimasukkan ke dalam perhitungan biaya per unit produk. Berbeda dengan metode variable costing yang hanya memperhitungkan biaya variabel, absorption costing menganggap seluruh biaya produksi sebagai biaya produk.
Komponen Biaya dalam Absorption Costing
Dalam penerapan absorption costing, biaya produksi yang dimasukkan meliputi:
- Biaya Bahan Baku Langsung (Direct Materials): Bahan-bahan yang secara fisik menjadi bagian dari produk jadi.
- Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor): Upah pekerja yang secara langsung terlibat dalam pembuatan produk.
- Biaya Overhead Pabrik Variabel (Variable Manufacturing Overhead): Biaya tidak langsung yang berubah seiring dengan tingkat produksi, seperti bahan penolong, listrik pabrik, dan depresiasi mesin.
- Biaya Overhead Pabrik Tetap (Fixed Manufacturing Overhead): Biaya tidak langsung yang tidak berubah terlepas dari tingkat produksi dalam jangka pendek, seperti gaji manajer pabrik, sewa gedung pabrik, dan asuransi pabrik.
Prinsip Dasar dan Implikasi
Prinsip utama dari absorption costing adalah bahwa semua biaya produksi harus 'diserap' oleh unit-unit produk yang dihasilkan. Ini berarti biaya overhead pabrik tetap dialokasikan ke setiap unit produk, meskipun jumlah produksi berfluktuasi. Akibatnya, biaya produksi mengikuti produk hingga produk tersebut terjual. Jika produk belum terjual, biaya overhead tetap menjadi bagian dari nilai persediaan (inventory) di neraca. Ketika produk terjual, biaya produksi yang sebelumnya ada di persediaan akan berpindah menjadi Harga Pokok Penjualan (HPP) di laporan laba rugi.
Meskipun memberikan gambaran yang komprehensif mengenai total biaya produksi, absorption costing dapat menimbulkan tantangan. Fluktuasi dalam jumlah produksi dapat menyebabkan perbedaan signifikan dalam laba yang dilaporkan. Misalnya, jika produksi meningkat tetapi penjualan stagnan, sebagian dari biaya overhead tetap akan 'terjebak' dalam persediaan, sehingga laba yang dilaporkan bisa tampak lebih tinggi daripada jika menggunakan metode variable costing. Hal ini bisa menyesatkan dalam analisis kinerja operasional jangka pendek.
Cara Menggunakan Absorption Costing
Absorption costing digunakan untuk menghitung total biaya produksi per unit, yang kemudian menjadi dasar penetapan harga jual dan pelaporan keuangan.
- 1Identifikasi semua biaya produksi: bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, overhead pabrik variabel, dan overhead pabrik tetap.
- 2Jumlahkan semua biaya produksi tersebut untuk mendapatkan total biaya produksi periode tersebut.
- 3Hitung jumlah unit yang diproduksi dalam periode tersebut.
- 4Bagi total biaya produksi dengan jumlah unit yang diproduksi untuk mendapatkan biaya produksi per unit.
- 5Alokasikan biaya produksi per unit ke setiap unit produk yang terjual (menjadi HPP) dan yang masih dalam persediaan.
Contoh Penggunaan Absorption Costing dalam Trading
Sebuah perusahaan sepatu memproduksi 1.000 pasang sepatu dalam satu bulan. Biaya produksinya adalah sebagai berikut:
- Bahan Baku Langsung: Rp 50.000.000
- Tenaga Kerja Langsung: Rp 30.000.000
- Overhead Pabrik Variabel: Rp 10.000.000
- Overhead Pabrik Tetap: Rp 20.000.000
Total Biaya Produksi = Rp 50.000.000 + Rp 30.000.000 + Rp 10.000.000 + Rp 20.000.000 = Rp 110.000.000
Biaya Produksi per Unit = Rp 110.000.000 / 1.000 pasang = Rp 110.000 per pasang
Perusahaan kemudian menetapkan harga jual di atas Rp 110.000 per pasang, misalnya Rp 150.000, untuk mencakup keuntungan. Jika 800 pasang terjual, maka HPP-nya adalah 800 x Rp 110.000 = Rp 88.000.000. Sisa biaya produksi (200 pasang x Rp 110.000) akan tetap berada di persediaan.
Istilah Terkait
Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Variable Costing, Full Costing, Biaya Produksi, Overhead Pabrik, Harga Pokok Penjualan (HPP), Manufaktur Akuntansi, Investasi, Neraca, Laporan Laba Rugi
Pertanyaan Umum tentang Absorption Costing
Apa perbedaan utama antara Absorption Costing dan Variable Costing?
Perbedaan utama terletak pada perlakuan biaya overhead pabrik tetap. Absorption costing memasukkan biaya overhead tetap ke dalam biaya produk, sementara Variable Costing memperlakukannya sebagai biaya periode yang langsung dibebankan ke laba rugi.
Kapan Absorption Costing lebih disukai digunakan?
Absorption costing umumnya digunakan untuk pelaporan keuangan eksternal karena sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP) dan Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS). Ini memberikan gambaran biaya yang lebih lengkap untuk tujuan penilaian persediaan.
Bagaimana Absorption Costing mempengaruhi laba jika produksi meningkat tetapi penjualan tidak?
Jika produksi meningkat dan penjualan stagnan, laba yang dilaporkan menggunakan absorption costing cenderung lebih tinggi. Ini karena sebagian dari biaya overhead tetap dialokasikan ke unit persediaan yang belum terjual, bukan langsung dibebankan ke laba rugi.