4 menit baca 768 kata Diperbarui: 14 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang Asset-Based Approach

  • Menilai aset perusahaan berdasarkan nilai aset riilnya.
  • Menghitung nilai intrinsik per saham dengan mengurangkan total aset dengan total hutang.
  • Cocok untuk perusahaan dengan aset fisik signifikan atau yang stagnan.
  • Kurang efektif untuk perusahaan berbasis kekayaan intelektual atau nilai merek.
  • Merupakan salah satu alat analisis, bukan satu-satunya penentu nilai.

📑 Daftar Isi

Apa itu Asset-Based Approach?

Asset-Based Approach adalah Metode penilaian aset berdasarkan nilai aset fisik dan keuangan perusahaan dikurangi kewajiban, lalu dibagi jumlah saham beredar untuk nilai intrinsik.

Penjelasan Lengkap tentang Asset-Based Approach

Asset-Based Approach: Menilai Nilai Intrinsik Berdasarkan Aset Riil

Asset-Based Approach adalah sebuah metode fundamental dalam dunia trading dan investasi yang berfokus pada penilaian harga sebuah saham atau aset berdasarkan nilai bersih dari aset fisik dan keuangan yang dimiliki oleh perusahaan penerbitnya. Pendekatan ini secara esensial mencoba mengukur nilai intrinsik sebuah perusahaan dengan menjumlahkan seluruh aset yang dapat diukur secara kuantitatif, seperti properti, tanah, mesin, inventaris, dan investasi keuangan, kemudian menguranginya dengan total kewajiban atau hutang yang ditanggung perusahaan.

Rumus dasar yang sering digunakan dalam Asset-Based Approach adalah:

Nilai Intrinsik per Saham = (Total Aset - Total Kewajiban) / Jumlah Saham Beredar

Kapan Asset-Based Approach Paling Efektif?

Pendekatan ini cenderung lebih relevan dan efektif untuk diterapkan pada jenis perusahaan tertentu. Perusahaan yang memiliki banyak aset fisik yang jelas dan mudah dinilai, seperti perusahaan manufaktur, real estate, atau perusahaan pertambangan, seringkali menjadi kandidat utama untuk analisis menggunakan metode ini. Selain itu, perusahaan yang berada dalam fase stagnasi atau mengalami penurunan kinerja, di mana nilai asetnya mungkin lebih mencerminkan nilai riilnya dibandingkan potensi pertumbuhan masa depan, juga dapat dianalisis dengan baik menggunakan pendekatan ini.

Keterbatasan Asset-Based Approach

Namun, penting untuk dicatat bahwa Asset-Based Approach memiliki keterbatasan. Pendekatan ini kurang efektif jika diterapkan pada perusahaan yang nilai utamanya berasal dari aset tak berwujud (intangible assets), seperti kekayaan intelektual (intellectual property), paten, hak cipta, brand value yang kuat, atau keahlian tim manajemen. Perusahaan teknologi, perusahaan farmasi yang bergantung pada paten, atau perusahaan barang konsumsi dengan merek yang sangat dikenal, mungkin tidak sepenuhnya terwakili nilainya hanya dengan melihat aset fisiknya.

Oleh karena itu, para investor dan trader profesional disarankan untuk tidak hanya mengandalkan Asset-Based Approach sebagai satu-satunya alat analisis. Kombinasi dengan metode penilaian lain, analisis fundamental yang mendalam, dan pemahaman terhadap kondisi pasar serta prospek industri adalah kunci untuk membuat keputusan investasi yang bijak dan komprehensif.

Cara Menggunakan Asset-Based Approach

Menerapkan Asset-Based Approach melibatkan pengumpulan data keuangan perusahaan, menghitung nilai aset bersih, dan membandingkannya dengan harga pasar untuk mengidentifikasi potensi undervalued atau overvalued.

  1. 1Langkah 1: Kumpulkan laporan keuangan perusahaan, terutama neraca (balance sheet) untuk mendapatkan data total aset dan total kewajiban.
  2. 2Langkah 2: Identifikasi dan nilai seluruh aset fisik dan keuangan perusahaan. Pastikan aset tersebut dapat diukur secara kuantitatif.
  3. 3Langkah 3: Hitung total kewajiban perusahaan, termasuk hutang jangka pendek dan jangka panjang.
  4. 4Langkah 4: Hitung nilai aset bersih perusahaan (Total Aset - Total Kewajiban).
  5. 5Langkah 5: Bagi nilai aset bersih dengan jumlah saham beredar untuk mendapatkan nilai intrinsik per saham.
  6. 6Langkah 6: Bandingkan nilai intrinsik per saham yang dihitung dengan harga pasar saham saat ini. Jika nilai intrinsik lebih tinggi, saham berpotensi undervalued, dan sebaliknya.

Contoh Penggunaan Asset-Based Approach dalam Trading

Seorang trader menganalisis sebuah perusahaan properti yang memiliki banyak gedung dan tanah senilai Rp 500 miliar. Perusahaan tersebut memiliki hutang sebesar Rp 200 miliar dan jumlah saham beredar sebanyak 100 juta lembar. Dengan Asset-Based Approach, nilai intrinsik per saham dihitung sebagai berikut:

Nilai Intrinsik per Saham = (Rp 500 Miliar - Rp 200 Miliar) / 100 Juta Lembar = Rp 3.000 per lembar.

Jika harga saham di pasar saat ini adalah Rp 2.500, trader tersebut mungkin melihat ini sebagai peluang beli karena saham diperdagangkan di bawah nilai aset bersihnya.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Nilai Intrinsik, Analisis Fundamental, Neraca Keuangan, Aset Berwujud, Aset Tidak Berwujud, Valuasi Perusahaan, Saham Undervalued

Pertanyaan Umum tentang Asset-Based Approach

Apakah Asset-Based Approach hanya cocok untuk perusahaan besar?

Tidak, Asset-Based Approach dapat diterapkan pada perusahaan dari berbagai ukuran, selama perusahaan tersebut memiliki aset fisik atau keuangan yang dapat dinilai secara kuantitatif.

Bagaimana jika perusahaan memiliki banyak aset tak berwujud?

Asset-Based Approach kurang efektif untuk perusahaan yang nilai utamanya berasal dari aset tak berwujud seperti hak paten atau merek dagang. Metode lain mungkin lebih sesuai.

Apakah nilai yang dihitung dari Asset-Based Approach adalah harga pasti saham?

Tidak, nilai yang dihitung adalah nilai intrinsik berdasarkan aset. Harga pasar saham dipengaruhi oleh banyak faktor lain seperti sentimen pasar, prospek pertumbuhan, dan kondisi ekonomi makro.