4 menit baca 843 kata Diperbarui: 14 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang Asset Coverage Ratio

  • Mengukur kemampuan perusahaan membayar utang jangka panjang dengan aset yang tersedia.
  • Dihitung dengan membandingkan aset lancar dan tetap dengan total utang jangka panjang.
  • Rasio yang lebih tinggi menunjukkan kesehatan finansial yang lebih baik dan risiko kebangkrutan yang lebih rendah.
  • Penting bagi investor dan trader untuk menilai kelayakan investasi.
  • Rasio di bawah 1 mengindikasikan potensi kesulitan keuangan.

📑 Daftar Isi

Apa itu Asset Coverage Ratio?

Asset Coverage Ratio adalah Asset Coverage Ratio mengukur kemampuan perusahaan melunasi utang jangka panjang menggunakan aset yang dimiliki. Rasio tinggi berarti risiko rendah.

Penjelasan Lengkap tentang Asset Coverage Ratio

Apa itu Asset Coverage Ratio?

Asset Coverage Ratio (ACR) adalah sebuah metrik keuangan krusial yang digunakan dalam dunia trading dan investasi untuk mengevaluasi kesehatan finansial suatu perusahaan. Rasio ini secara spesifik mengukur sejauh mana aset yang dimiliki oleh sebuah perusahaan mampu menutupi atau melunasi kewajiban utang jangka panjangnya. Dengan kata lain, ACR memberikan gambaran tentang likuiditas perusahaan dalam konteks utang yang jatuh tempo di masa depan.

Bagaimana Cara Menghitung Asset Coverage Ratio?

Perhitungan Asset Coverage Ratio relatif sederhana dan melibatkan perbandingan antara total aset yang dapat digunakan untuk melunasi utang dengan jumlah total utang jangka panjang perusahaan. Rumusnya adalah sebagai berikut:

Asset Coverage Ratio = (Aset Lancar + Aset Tetap) / Total Utang Jangka Panjang

  • Aset Lancar: Ini mencakup aset yang diharapkan dapat dikonversi menjadi kas dalam waktu satu tahun, seperti kas, piutang usaha, dan persediaan.
  • Aset Tetap: Ini adalah aset jangka panjang yang digunakan dalam operasional bisnis, seperti properti, pabrik, dan peralatan.
  • Total Utang Jangka Panjang: Ini adalah seluruh kewajiban utang perusahaan yang jatuh tempo lebih dari satu tahun, seperti obligasi dan pinjaman bank jangka panjang.

Interpretasi Asset Coverage Ratio

Interpretasi ACR sangat penting untuk memahami implikasinya dalam investasi:

  • ACR Tinggi: Rasio yang tinggi, misalnya di atas 1, menunjukkan bahwa perusahaan memiliki aset yang lebih dari cukup untuk menutupi utang jangka panjangnya. Ini adalah indikator positif yang menandakan stabilitas finansial yang kuat dan risiko kebangkrutan yang lebih rendah. Semakin tinggi angkanya, semakin aman posisi perusahaan.
  • ACR = 1: Jika rasio tepat 1, artinya aset perusahaan hanya cukup untuk menutupi utang jangka panjangnya. Ini menunjukkan keseimbangan, namun tidak memberikan bantalan keamanan yang signifikan.
  • ACR Rendah (di bawah 1): Rasio di bawah 1 mengindikasikan bahwa perusahaan mungkin menghadapi kesulitan dalam melunasi kewajiban utang jangka panjangnya dengan aset yang dimilikinya. Ini bisa menjadi sinyal peringatan dini adanya masalah keuangan.

Pentingnya Asset Coverage Ratio bagi Trader dan Investor

Bagi para trader dan investor, memahami Asset Coverage Ratio sebuah perusahaan adalah bagian integral dari analisis fundamental. Rasio ini membantu dalam:

  • Menilai Risiko: Perusahaan dengan ACR yang sehat cenderung memiliki risiko finansial yang lebih rendah, sehingga lebih menarik sebagai pilihan investasi.
  • Memprediksi Pertumbuhan: Kemampuan perusahaan untuk mengelola utangnya secara efektif dapat mencerminkan efisiensi operasional dan potensi pertumbuhan di masa depan. Perusahaan yang tidak terbebani utang berlebih lebih mungkin untuk mengalokasikan sumber daya untuk ekspansi.
  • Membuat Keputusan Investasi yang Tepat: Dengan mempertimbangkan ACR bersama dengan rasio keuangan lainnya, investor dapat membuat keputusan yang lebih terinformasi tentang saham mana yang layak dibeli atau dijual.

Cara Menggunakan Asset Coverage Ratio

Gunakan Asset Coverage Ratio sebagai salah satu alat analisis untuk menilai kesehatan finansial perusahaan sebelum melakukan trading atau investasi.

  1. 1Identifikasi perusahaan yang ingin Anda analisis.
  2. 2Cari laporan keuangan perusahaan (neraca) untuk menemukan nilai Aset Lancar, Aset Tetap, dan Total Utang Jangka Panjang.
  3. 3Hitung Asset Coverage Ratio menggunakan rumus: (Aset Lancar + Aset Tetap) / Total Utang Jangka Panjang.
  4. 4Bandingkan rasio yang diperoleh dengan nilai acuan (misalnya, 1 atau rasio industri) dan interpretasikan dampaknya terhadap risiko investasi.

Contoh Penggunaan Asset Coverage Ratio dalam Trading

Misalkan Perusahaan A memiliki Aset Lancar sebesar Rp 500 miliar, Aset Tetap sebesar Rp 1.500 miliar, dan Total Utang Jangka Panjang sebesar Rp 1.000 miliar. Maka, Asset Coverage Ratio-nya adalah: (Rp 500 miliar + Rp 1.500 miliar) / Rp 1.000 miliar = Rp 2.000 miliar / Rp 1.000 miliar = 2.  Rasio 2 ini menunjukkan bahwa Perusahaan A memiliki aset yang dua kali lipat lebih besar dari utang jangka panjangnya, mengindikasikan posisi keuangan yang sangat kuat dan aman bagi investor.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Analisis Fundamental, Rasio Keuangan, Utang Jangka Panjang, Aset Lancar, Aset Tetap, Risiko Kebangkrutan, Likuiditas Perusahaan

Pertanyaan Umum tentang Asset Coverage Ratio

Apakah Asset Coverage Ratio hanya relevan untuk perusahaan besar?

Tidak, Asset Coverage Ratio relevan untuk semua jenis perusahaan yang memiliki utang jangka panjang, baik besar maupun kecil, karena mengukur kemampuan membayar utang tersebut.

Berapa nilai Asset Coverage Ratio yang dianggap ideal?

Secara umum, rasio di atas 1 dianggap sehat. Namun, 'ideal' dapat bervariasi tergantung pada industri, kondisi ekonomi, dan kebijakan perusahaan. Rasio yang lebih tinggi dari 1.5 atau 2 sering dianggap sangat baik.

Apakah Asset Coverage Ratio cukup untuk membuat keputusan investasi?

Asset Coverage Ratio adalah salah satu dari banyak rasio keuangan yang penting. Keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada analisis komprehensif yang mencakup rasio lain, prospek industri, manajemen perusahaan, dan kondisi pasar secara keseluruhan.