5 menit baca 956 kata Diperbarui: 15 Januari 2026

🎯 Poin Penting tentang Average Collection Period

  • ACP mengukur efisiensi perusahaan dalam menagih piutang dari pelanggan.
  • Periode pengumpulan yang lebih pendek menunjukkan likuiditas dan manajemen keuangan yang lebih baik.
  • Periode pengumpulan yang lebih panjang dapat mengindikasikan masalah arus kas dan risiko kredit.
  • Perhitungan ACP melibatkan rata-rata piutang usaha, penjualan kredit, dan jumlah hari dalam setahun.
  • Analisis ACP krusial untuk menilai kesehatan finansial dan operasional perusahaan.

📑 Daftar Isi

Apa itu Average Collection Period?

Average Collection Period adalah Average Collection Period (ACP) adalah metrik keuangan yang mengukur rata-rata waktu perusahaan mengumpulkan pembayaran piutang. ACP pendek mengindikasikan efisiensi dan likuiditas yang baik.

Penjelasan Lengkap tentang Average Collection Period

Average Collection Period (ACP), atau yang dikenal juga sebagai Days Sales Outstanding (DSO), adalah sebuah indikator keuangan fundamental yang dirancang untuk mengukur seberapa efektif dan efisien sebuah perusahaan dalam menagih serta mengumpulkan pembayaran dari para pelanggannya atas transaksi yang dilakukan secara kredit. Metrik ini secara spesifik memberikan gambaran mengenai rata-rata jumlah hari yang dibutuhkan oleh perusahaan, terhitung sejak sebuah faktur diterbitkan hingga pembayaran penuh dari pelanggan diterima.

Dalam dunia bisnis, khususnya dalam analisis investasi, manajemen keuangan, dan pasar modal, pemahaman yang mendalam mengenai ACP sangatlah vital. Hal ini dikarenakan ACP mencerminkan secara langsung kesehatan arus kas perusahaan dan kualitas manajemen piutangnya. Perusahaan dengan ACP yang pendek cenderung memiliki manajemen keuangan yang lebih sehat dan likuiditas yang lebih baik.

Rumus Perhitungan Average Collection Period

Perhitungan ACP didasarkan pada rumus matematis yang relatif sederhana, namun membutuhkan data keuangan yang akurat:

ACP = (Rata-rata Piutang Usaha / Penjualan Kredit) x Jumlah Hari Dalam Tahun

Mari kita uraikan setiap komponen dalam rumus tersebut:

  • Rata-rata Piutang Usaha (Average Accounts Receivable): Nilai ini diperoleh dengan menjumlahkan saldo piutang usaha pada awal periode pelaporan (misalnya, awal kuartal atau tahun) dengan saldo piutang usaha pada akhir periode pelaporan, kemudian hasilnya dibagi dua. Angka ini memberikan representasi yang lebih stabil mengenai jumlah total uang yang terutang oleh pelanggan selama periode tersebut, dibandingkan hanya menggunakan saldo di satu titik waktu.
  • Penjualan Kredit (Credit Sales): Angka ini merepresentasikan total nilai dari seluruh penjualan yang dilakukan oleh perusahaan secara kredit selama periode pelaporan yang sama dengan perhitungan rata-rata piutang usaha. Sangat penting untuk hanya memasukkan data penjualan kredit agar perhitungan ACP menjadi akurat dan relevan. Penjualan tunai tidak termasuk dalam perhitungan ini karena tidak menimbulkan piutang.
  • Jumlah Hari Dalam Tahun (Number of Days in a Year): Secara umum, angka yang digunakan adalah 365 hari. Namun, dalam beberapa analisis yang lebih spesifik, perusahaan dapat menyesuaikan angka ini dengan jumlah hari kerja aktual dalam setahun jika hal tersebut lebih relevan dengan siklus operasional mereka.

Interpretasi ACP dan Implikasinya dalam Bisnis

Interpretasi hasil perhitungan ACP sangat krusial untuk menilai kinerja keuangan dan operasional perusahaan:

  • ACP yang Singkat: Menunjukkan bahwa perusahaan sangat efisien dalam proses penagihan dan pengumpulan pembayaran dari pelanggannya. Hal ini berarti perusahaan memiliki likuiditas yang kuat, mampu mengubah piutang usaha menjadi kas dengan cepat. Likuiditas yang baik memungkinkan perusahaan untuk dengan mudah memenuhi kewajiban finansialnya, seperti membayar pemasok, gaji karyawan, dan utang. Selain itu, kas yang tersedia juga dapat dialokasikan untuk peluang investasi baru atau ekspansi bisnis.
  • ACP yang Panjang: Mengindikasikan adanya potensi masalah dalam proses penagihan atau kebijakan kredit yang terlalu longgar. Periode pengumpulan yang lama dapat menyebabkan masalah arus kas, karena kas perusahaan tertahan di piutang. Hal ini dapat menghambat kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban tepat waktu, meningkatkan risiko kredit macet, dan membatasi peluang pertumbuhan.

Cara Menggunakan Average Collection Period

Trader dan analis menggunakan Average Collection Period (ACP) untuk mengevaluasi efisiensi operasional dan kesehatan finansial sebuah perusahaan, yang dapat mempengaruhi keputusan investasi.

  1. 1Langkah 1: Kumpulkan data keuangan perusahaan, termasuk saldo piutang usaha di awal dan akhir periode, serta total penjualan kredit selama periode tersebut.
  2. 2Langkah 2: Hitung Rata-rata Piutang Usaha dengan menjumlahkan saldo awal dan akhir piutang, lalu membaginya dua.
  3. 3Langkah 3: Gunakan rumus ACP: (Rata-rata Piutang Usaha / Penjualan Kredit) x 365.
  4. 4Langkah 4: Bandingkan hasil ACP perusahaan dengan periode sebelumnya, industri sejenis, atau rata-rata pasar untuk menarik kesimpulan mengenai efisiensi pengumpulan piutang.

Contoh Penggunaan Average Collection Period dalam Trading

Misalkan Perusahaan ABC memiliki data berikut untuk tahun fiskal 2023:

  • Saldo Piutang Usaha Awal Tahun: Rp 500.000.000
  • Saldo Piutang Usaha Akhir Tahun: Rp 700.000.000
  • Total Penjualan Kredit Tahun 2023: Rp 10.000.000.000

Perhitungan ACP:

  1. Rata-rata Piutang Usaha = (Rp 500.000.000 + Rp 700.000.000) / 2 = Rp 600.000.000
  2. ACP = (Rp 600.000.000 / Rp 10.000.000.000) x 365 hari = 0.06 x 365 = 21.9 hari

Interpretasi: Perusahaan ABC membutuhkan rata-rata 21.9 hari untuk mengumpulkan pembayaran piutangnya. Jika rata-rata industri adalah 30 hari, ini menunjukkan Perusahaan ABC lebih efisien dalam mengelola piutangnya. Sebaliknya, jika rata-rata industri lebih pendek, ini bisa menjadi sinyal perlunya perbaikan dalam proses penagihan.

Istilah Terkait

Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Piutang Usaha, Penjualan Kredit, Arus Kas, Likuiditas, Manajemen Keuangan, Days Sales Outstanding (DSO)

Pertanyaan Umum tentang Average Collection Period

Apa perbedaan utama antara Average Collection Period (ACP) dan Days Sales Outstanding (DSO)?

Secara fungsional, Average Collection Period (ACP) dan Days Sales Outstanding (DSO) mengukur hal yang sama, yaitu rata-rata jumlah hari yang dibutuhkan untuk menagih piutang. Keduanya adalah istilah yang sering digunakan secara bergantian.

Mengapa ACP yang lebih pendek dianggap lebih baik?

ACP yang lebih pendek menunjukkan bahwa perusahaan dapat mengonversi piutang menjadi kas dengan cepat. Ini meningkatkan likuiditas, mengurangi risiko kredit macet, dan memberikan fleksibilitas finansial yang lebih besar untuk operasional dan investasi.

Faktor apa saja yang bisa menyebabkan ACP menjadi panjang?

ACP yang panjang bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kebijakan kredit yang terlalu longgar, proses penagihan yang tidak efisien, ketidakmampuan pelanggan untuk membayar, atau kondisi ekonomi yang memburuk yang mempengaruhi kemampuan bayar pelanggan.