4 menit baca 821 kata Diperbarui: 15 Januari 2026
🎯 Poin Penting tentang Average Cost Basis
- ACB menghitung rata-rata biaya per unit aset setelah beberapa kali pembelian dengan harga berbeda.
- Rumusnya adalah total biaya pembelian dibagi total unit aset yang dimiliki.
- Memudahkan investor mengukur keuntungan atau kerugian secara akurat.
- Sangat berguna untuk investor jangka panjang dalam pengelolaan portofolio dan strategi keluar.
- Mendukung pengambilan keputusan jual/beli aset yang lebih cerdas berdasarkan basis biaya yang sebenarnya.
📑 Daftar Isi
Apa itu Average Cost Basis?
Average Cost Basis adalah Average Cost Basis (ACB) adalah rata-rata harga yang dibayarkan per unit aset investasi, krusial untuk mengukur profitabilitas dan pengambilan keputusan trading.
Penjelasan Lengkap tentang Average Cost Basis
Average Cost Basis (ACB), atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai Basis Biaya Rata-rata, adalah sebuah metode fundamental yang digunakan oleh investor dan trader untuk menentukan rata-rata harga yang mereka bayarkan untuk setiap unit aset investasi yang mereka pegang. Metode ini sangat krusial, terutama ketika seorang investor melakukan pembelian aset yang sama dalam beberapa transaksi pada harga yang berbeda. ACB memberikan gambaran yang jelas mengenai total biaya investasi yang dikeluarkan, sehingga memudahkan perhitungan potensi keuntungan atau kerugian ketika aset tersebut dijual.
Bagaimana ACB Dihitung?
Perhitungan ACB relatif sederhana. Langkah utamanya adalah:
- Menjumlahkan Total Biaya Pembelian: Ini mencakup semua biaya yang dikeluarkan untuk membeli aset, termasuk harga pembelian aset itu sendiri, komisi broker, biaya transaksi, dan pajak yang berlaku pada saat pembelian.
- Membagi dengan Jumlah Total Unit Aset: Hasil penjumlahan total biaya pembelian kemudian dibagi dengan jumlah total unit aset (misalnya, lembar saham, kontrak, atau unit reksa dana) yang dimiliki.
Rumus sederhananya adalah:
ACB = Total Biaya Pembelian / Jumlah Total Unit Aset
Mengapa ACB Penting dalam Trading dan Investasi?
ACB memiliki beberapa manfaat signifikan bagi para pelaku pasar:
- Pengukuran Kinerja Investasi: Dengan mengetahui ACB, investor dapat dengan mudah membandingkannya dengan harga pasar saat ini untuk menentukan apakah investasi mereka sedang mengalami keuntungan (jika harga pasar lebih tinggi dari ACB) atau kerugian (jika harga pasar lebih rendah dari ACB).
- Pengambilan Keputusan Strategis: Informasi ACB sangat berharga dalam merencanakan strategi keluar (exit strategy). Investor dapat menentukan titik harga target untuk menjual aset mereka guna mencapai keuntungan yang diinginkan atau membatasi kerugian.
- Manajemen Portofolio Jangka Panjang: Bagi investor jangka panjang, ACB membantu dalam memantau efektivitas strategi investasi mereka dari waktu ke waktu. Ini memungkinkan penyesuaian alokasi aset atau penambahan posisi jika diperlukan.
- Perhitungan Pajak (di beberapa yurisdiksi): Di beberapa negara, ACB digunakan sebagai dasar untuk menghitung Capital Gains Tax (pajak atas keuntungan modal). Ini memastikan perhitungan pajak yang akurat berdasarkan biaya perolehan yang sebenarnya.
Cara Menggunakan Average Cost Basis
ACB digunakan untuk mendapatkan gambaran biaya rata-rata per unit aset, yang esensial untuk mengevaluasi profitabilitas dan membuat keputusan trading yang terinformasi.
- 1Catat semua transaksi pembelian aset, termasuk harga beli, jumlah unit, dan biaya tambahan (komisi, pajak).
- 2Jumlahkan total biaya dari semua pembelian aset yang sama.
- 3Jumlahkan total unit aset yang telah dibeli.
- 4Bagi total biaya pembelian dengan total unit aset untuk mendapatkan Average Cost Basis (ACB).
- 5Bandingkan ACB dengan harga pasar saat ini untuk menentukan profitabilitas dan gunakan sebagai dasar strategi jual/beli.
Contoh Penggunaan Average Cost Basis dalam Trading
Seorang trader membeli saham XYZ sebanyak 100 lembar pada harga Rp 1.000 per lembar, dengan biaya transaksi Rp 10.000. Seminggu kemudian, trader membeli lagi 200 lembar saham XYZ pada harga Rp 1.100 per lembar, dengan biaya transaksi Rp 20.000.
Perhitungan ACB:
Total Biaya Pembelian 1: (100 lembar * Rp 1.000) + Rp 10.000 = Rp 110.000
Total Biaya Pembelian 2: (200 lembar * Rp 1.100) + Rp 20.000 = Rp 240.000
Total Biaya Keseluruhan: Rp 110.000 + Rp 240.000 = Rp 350.000
Total Unit Aset: 100 lembar + 200 lembar = 300 lembar
Average Cost Basis (ACB): Rp 350.000 / 300 lembar = Rp 1.166,67 per lembar.
Jika harga saham XYZ saat ini adalah Rp 1.300, maka trader memiliki keuntungan sebesar Rp 1.300 - Rp 1.166,67 = Rp 133,33 per lembar.
Istilah Terkait
Pelajari juga istilah-istilah berikut untuk memperdalam pemahaman Anda: Biaya Perolehan, Profitabilitas, Strategi Keluar, Manajemen Portofolio, Capital Gains Tax, Trader, Investor, Pasar Modal
Pertanyaan Umum tentang Average Cost Basis
Apakah ACB hanya berlaku untuk saham?
Tidak, Average Cost Basis (ACB) dapat diterapkan pada berbagai jenis aset investasi, termasuk reksa dana, obligasi, kripto, dan aset lain yang diperdagangkan secara berkala dengan harga yang bervariasi.
Bagaimana jika saya menjual sebagian aset saya?
Ketika Anda menjual sebagian aset, ACB Anda akan tetap dihitung berdasarkan total biaya dan total unit yang tersisa. Namun, untuk tujuan perhitungan keuntungan atau kerugian yang direalisasikan dari penjualan tersebut, Anda akan menggunakan ACB pada saat penjualan sebagai basis biaya.
Apakah ACB penting untuk trader jangka pendek?
Meskipun lebih krusial bagi investor jangka panjang, ACB tetap penting bagi trader jangka pendek untuk memahami biaya perolehan aktual mereka, terutama jika mereka melakukan beberapa entri dan keluar dari posisi yang sama dalam jangka waktu yang berdekatan.